Search

Tidak Sadar Radikal

Saya menulis di majalah KOMINFO NEXT Edisi 13-14 tahun 2020. Fresh on stand!!

Berikut opini saya.



Menjadi bagian dari garda depan yang membawa perubahan untuk bangsa Indonesia, membuat kita acap kali lebih waspada dengan sumber daya yang bisa digunakan di tanah air. Bila itu sumber daya materiil, maka kita perlu menanyakan apakah itu akan dimanfaatkan untuk kepentingan negara dan kemaslahatan masyarakat dalam jangka panjang. Apabila itu sumber daya manusia, sudah seyogyanya kita menanyakan apakah si pengguna akan menggunakan kemajuan teknologi dengan hati Pancasila.


Ancaman radikalisme, terorisme, dan separatisme, sudah nyata di Indonesia dan tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang ringan. Kita tidak bisa lagi saling tunjuk agar orang lain saja yang membereskan. Pada era di mana semua orang berpotensi menjadi lone wolf, kolaborasi harus dilakukan untuk menghilangkan radikalisme, terorisme, dan separatisme dari Indonesia. Lalu apakah yang membuat potensi seseorang menjadi lone wolf meningkat? Kemajuan teknologi dan kemudahan penyebaran informasi menjadi faktor utamanya. Contohnya, seseorang bisa secara mandiri belajar merakit bom untuk membuktikan pada komunitasnya bahwa ia ikut berjuang.


Pada dasarnya, kata radikal bukanlah sesuatu yang berarti negatif. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, radikal artinya mendasar, amat keras menuntut perubahan, juga maju dalam berpikir dan bertindak. Radikalisme yang kini berkonotasi negatif disebabkan oleh radikal terorisme, yakni cara berpikir yang memaklumi, menerima, dan menyetujui tindakan kekerasan untuk mencapai satu tujuan tertentu. Adapun radikalisasi adalah transfer cara berpikir yang mentoleransi kekerasan untuk tujuan tertentu dari satu orang lain atau satu kelompok kepada kelompok lain.


Bagaimanakah bentuk tindakan radikal terorisme yang sudah menjamur di Indonesia sejak tahun 1949? Sesederhana tindakan intoleransi di lingkungan sekitar dan menganggap kelompoknya sebagai yang paling benar. Tipe orang yang radikal teroris cenderung anti Pancasila dan NKRI, sekaligus anti pemerintah. Apabila dia beragama Islam, orang tersebut akan mudah mengkafirkan orang lain. Di tambah lagi, dia sudi menggunakan kekerasan untuk tujuan tertentu. Seperti melemparkan granat, meledakkan bom, hingga menjadi pengantin bom bunuh diri. Menjadi radikal teroris tidak mengenal umur, baik tua dan muda; baby boomers hingga milenial.


Bersama-sama kita haru menangkal cara berpikir radikal terorisme. Layaknya memberikan imunisasi kepada balita, rakyat sekarang juga perlu diberi imunisasi agar tidak mudah menerima pikiran-pikiran radikal terorime. Penulis meyakini kalau mayoritas warga negara Indonesia masih cinta NKRI. Namun, tanpa melakukan pencegahan, pemahaman radikal terorisme bisa menyebar tanpa disadari masyarakat, memasuki pikiran bawah sadar sehingga ia bisa menjadi simpatisan kelompok berorientasi radikal. Ini bisa terlihat dari perilakunya di dunia media sosial; memberikan like, melakukan share posting yang radikal, hingga melontarkan opini yang berisi ujaran kebencian.


Diperlukan keberanian dan ketegasan untuk memutus transfer cara berpikir radikal terorisme dari satu orang ke orang lainnya atau dari satu kelompok ke kelompok lainnya. Sebagai bagian dari grup yang melek literasi digital, intervensi terhadap saluran-saluran komunikasi harus dilakukan untuk memutus transfer informasi dan pemikiran radikal terorisme ini. Proses transfer pemikiran tersebut bisa dilakukan dengan berbagai macam medium. Hampir semua medium penyebaran informasi dapat digunakan untuk menyebarkan pemikiran anti Pancasila.


Cara penyebaran ideologi ini sangatlah halus dengan isi konten yang dikemas sedemikian rupa sehingga mudah dipahami dan diterima. Diparafrase dengan bahasa yang mudah dicerna, bahkan cenderung menarik perhatian. Tidak sekali dua kali penulis menemukan ajakan mendirikan negara khilafah dalam pamflet yang dibagikan di masjid-masjid. Transmitter-nya adalah orang-orang yang bersosok meyakinkan dan terlihat seperti orang yang biasa dijangkau oleh rakyat pada umumnya.


Target penerima pesan radikal terorime adalah individu-individu yang rentan dan tidak matang secara kejiwaan. Salah satu tantangan di area urban adalah fakta bahwa semakin banyaknya orang yang harus bekerja lebih banyak dan berat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Banyak pekerja yang burn-outtanpa mereka sadari. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa burn-out adalah fenomena dalam konteks dunia kerja. Burn-out adalah sindrom dari stres kronis dari kehidupan kerja yang tidak terobati dengan baik. Ciri-cirinya adalah kecapaian berlebihan, energi terforsir terus-menerus, mulai berpikir negatif dan sinis terhadap pekerjaannya sendiri, juga berkurangnya efikasi professional. Sehingga, kesehatan mental di dunia kerja juga harus menjadi perhatian kita bersama. Apakah Anda salah satunya? Atau Anda mengenal kolega yang mengalami gejala tersebut di atas? Bila iya, maka bertambah satu individu yang rentan menerima pesan radikal terorisme. Bisa jadi, yang bersangkutan tidak sadar kalau ia sudah radikal.


Di lain pihak, tantangan di daerah rural adalah konteks penduduk marjinal. Apabila seseorang merasa termarjinalkan, diperlakukan tidak adil, mengalami kemiskinan, ditambah kurangnya pendidikan dan pengetahuan, maka orang tersebut cenderung lebih mudah menyerap dan menerima informasi-informasi yang berunsur radikal terorime. Lagi-lagi, mungkin ia pun tidak sadar kalau sudah terjangkit radikalisme. Adakah keluarga kita di daerah yang seperti itu? Lalu, apakah yang bisa kita lakukan bila ada keluarga kita sendiri yang mendukung pemahaman radikal terorisme? Kerap kali, sebagai keluarga kita menjadi permisif karena tidak mau terlibat permasalahan dengan keluarga. Namun, mengambil satu langkah lebih maju untuk menerapkan prinsip kebhinekaan dalam keluarga juga bisa menjadi solusi untuk menyadarkan korban transfer pemikiran radikal terorisme.


Penanganan hal semacam ini harus dilakukan dari hulu ke hilir, sejak seseorang baru terekspos pada narasi radikal terorisme, mulai menyetujui dan mendukung tindakan radikal terorisme, hingga turut berpartisipasi melakukannya. Pemerintah sudah tegas menempatkan diri sebagai pemimpin pembasmi radikal terorime dari tanah air, sudah seyogyanya sebagai anak bangsa yang peduli pada ibu pertiwi, kita turut mendukung agenda pemerintah tersebut. Kita patut selalu siap siaga dan awas dalam melihat dan mendengar untuk mengidentifikasi pergerakan radikal teroris, baik yang kecil seperti penyebaran pesan-pesan berbau radikal, maupun aksi-aksi separatisme yang mengancam keutuhan NKRI. Tidak ada gading yang tak retak, namun apabila kita mengisi keretakan itu dengan emas gotong royong persatuan Indonesia, maka ketahanan nasional adalah sebuah keniscayaan yang bisa kita raih bersama.




#opini #lathifa #lathifaanshori #artikel #tulisan #radikal #deradikalisasi #anakmuda #sadar

42 views
Boleh aku kirim update?
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey Snapchat Icon
You know what is right, do right.

© 2023 by Arianna Castillo​. Proudly created with Wix.com