Search

The Power of Emak-Emak itu Tidak Akan Basi

Sudah baca yang terjadi di Sudan? Ada revolusi di sana. Meskipun Presiden Omar Al Basyir sudah turun, tapi rakyat masih protes di jalan-jalan. Yang menyedihkan, banyak perempuan dipukuli oleh petugas dalam demonstrasi tersebut. Bukannya malah berhenti, makin banyak perempuan jadi bersikeras turun ke jalanan karena itu terjadi ke kebanyakan mereka. Hampir 70% pendemo adalah perempuan. Menurut pengakuan petugas keamanan yang tidak ingin disebutkan namanya, mereka memang diperintahkan untuk menghajar perempuan. “Aksirul banaat,” Hancurkan perempuan. Karena kalau kamu menghancurkan perempuannya, kamu menghancurkan yang laki-laki. Break the girls. Because if you break the girls, you break the men.


Oh!!!


Ini menjadi fakta bahwa perempuan menjadi simbol kelemahan yang (dianggap) mudah untuk ditindas, sekaligus menjadi lambang kekuatan bagi lawan jenisnya. Saya jadi ingat perkataan Desmond Tutu, “Jika kita ingin melihat perkembangan riil di dunia, maka investasi terbesar kita adalah perempuan.” Bayangkan bila investasi terbaik negara dirusak begitu saja. Atau, apabila sebuah perusahaan menaruh uang di bursa saham dan saham perusahaan itu jatuh? Tentu tidak ada yang senang.


Menurut pengakuan pelaku kerusuhan di Jakarta, insiden yang terjadi pada 21-22 Mei lalu direncanakan untuk berakhir seperti Reformasi 1998. Berarti mau pakai ada perkosa-perkosaan dong? Korban pemerkosaan di masa kelam itu saja belum tentu traumanya sudah sembuh, ini mau menambah luka pada perempuan Indonesia lagi? Kok tega sekali?


Di depan Sungai Nil Sudan yang melintasi kota Khartoum.

Dalam perjalanan tugas saya ke Sudan beberapa tahun lalu, saya mendapatkan pengalaman yang tidak terlupakan. Sekitar tahun 2012, saat konflik di Darfur sedang panas. Sehingga melihat perkembangan revolusi di Sudan ini, saya bisa mengamini testimoni aktivis Sudan tentang peninggalan pemerintahan sebelumnya.


Suatu hari di Khartoum, saya dan kolega saya pergi ke sebuah food court besar di tengah kota. Ramai sekali. Hampir semua meja-kursi terisi, hanya ada satu-dua tempat duduk kosong di tengah. Rupanya wajah Asia kami menarik perhatian. Ketika lagi makan, beberapa orang mulai mendekati kami dan bertanya-tanya tujuan kedatangan kami ke Khartoum. Beberapa orang mengambil foto diam-diam dari jauh. Beberapa lagi mulai menelepon sambil melirik-lirik ke kami. Seperti diinterogasi, mereka menyudutkan kami untuk segera meninggalkan ibukota Sudan itu. Lha kerja belum selesai, masa udah cabut-cabut aja?


Berhubung situasi semakin memanas, saya dan rekan saya pura-pura ke toilet agar bisa mengatur strategi keluar dari situ. Kami sudah dengar kalau budget negara itu dialokasikan ke bidang pertahanan dan keamanan dalam jumlah yang fantastis. Sebuah dana besar yang larinya juga ke intel dan informan negara di seluruh penjuru Sudan. Jumlah personilnya? Tak terhitung. Kami curiga kalau kami dikerubungi oleh intel pemerintah. Setelah kami kembali ke meja, seseorang mendesak kami untuk ikut dengannya mencari tiket travel kembali ke Mesir. Kami sudah punya tiket untuk itu, tapi tentu kami tidak bilang kapan kami akan pergi. Akhirnya, kami berdua digiring keluar food court sampai ke travel agent terdekat. Di dalam, sambil berusaha mengelabui laki-laki itu, kami menyelinap keluar. Kami lari sampai dapat taksi kosong yang mau mengangkut kami. Sambil menunduk di jok kursi, kami dibawa taksi ke tujuan kami berikutnya. Perut masih lapar karena makan belum habis, tapi sudah digiring duluan ke luar food court. Kejadian yang aneh, tapi nyata. Akhirnya selama di sana, saya hanya makan roti dan keju yang saya beli dari warung dekat hotel.


Demonstran di Sudan kali ini mengatakan bahwa salah satu peninggalan rezim Omar Al Basyir adalah tangan besi aparat keamanan pemerintah. Begitu pula militia yang eksis di Sudan, mereka berdarah dingin. Jadi, jangan heran mengetahui perempuan-perempuan di Sudan dipukuli atas nama menjaga stabilitas negara ketika sedang demonstrasi, saya saja sampai nggak beresin makan dan digiring keluar dari food court tanpa alasan yang jelas.


Awal mula kerusuhan di Sudan rupanya mirip dengan revolusi Arab Spring di Mesir dimana orang-orang turun ke jalan karena harga sembako yang mahal. Di Mesir, awalnya anak-anak muda turun ke jalan karena ekonomi memburuk dan lapangan kerja yang minim. Bukan minta presidennya turun. Tidak disangka, permintaan dalam demonstrasi beralih ke tuntutan agar presiden mengundurkan diri dari jabatannya. Tidak berapa lama, baik Husni Mubarak dan Omar Al Basyir, yang sudah memimpin negaranya selama tiga dekade, dimasukkan ke penjara.


Bagaimana dengan Indonesia? Sehubungan dengan pengalaman kerja saya di daerah-daerah konflik, banyak orang yang khawatir dan menanyakan ke saya, apakah demonstrasi dan kerusuhan di Indonesia bisa berakhir layaknya Arab Spring? Lalu, Presiden Jokowi jatuh dari kedudukannya?


Saya jawab, tidak.


Mengapa?

Karena rumusnya tidak masuk. Untuk mempermudah perumpamaan, maka lingkup contoh saya fokuskan pada Mesir, Sudan, dan Indonesia saja. Pada saat terjadi demonstrasi besar di Bundaran Tahrir Kairo, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah sudah sangat rendah. Dari 10 orang yang Anda temui, bisa jadi hanya 2 orang yang berbahagia dengan pemerintahan Husni Mubarak masa itu. Ekonomi memburuk, politik pun tidak sehat. Husni Mubarak sedang menyiapkan regenerasi agar anaknya, Gamal Mubarak, menjadi presiden Mesir. Meskipun warga Mesir bisa maklum dan jadi permisif, orang-orang yang sama juga tidak menyukai ide tersebut, namun tidak bisa melakukan apa-apa. Eeeh…. Arab Spring deh! Hal ini juga terjadi karena masyarakat sudah sampai ke titik jenuh. Yang menarik, semuanya di masa 30an tahun. Husni Mubarak memimpin selama 30 tahun, Omar Al Basyir selama 31 tahun, dan Soeharto pun 31 tahun menjabat.


Itu artinya kalau sebuah situasi tidak memenuhi faktor-faktor; tingkat kepuasan masyarakat sangat buruk, situasi ekonomi jelek, dan pemerintahan berumur tiga dekade, sulitlah untuk melihat Indonesia akan revolusi dalam masa kepemimpinan Presiden Jokowi. Pertama, Undang-Undang telah melindungi bangsa ini dengan membatasi seseorang menjadi presiden di tanah air lebih dari 10 tahun (atau 2 periode). Kedua, meskipun masih ada isu ekonomi sedang agak lesu, namun perekonomian kita stabil. Apalagi dengan meningkatnya micro-financing untuk perempuan yang berimbas langsung ke lingkup keluarga di desa-desa. Ketiga, menurut survey CSIS pada Maret 2019, sebanyak 72,9% masyarakat puas dengan kinerja Jokowi-JK. Dengan rata-rata tren sekitar 70% sejak menjabat. Jadi tidak perlu khawatir.


Sehingga, hemat saya, rumus revolusi #jamannow adalah = Tingkat kepuasan kinerja rendah sekali + perekonomian buruk sekali + jadi presiden terlalu berkali-kali.


Menurut saya rumusan yang sama juga dapat diaplikasikan dalam organisasi dan perusahaan. (Ini bukan ngajarin.. ini namanya analisa dan opini.)


Kembali ke laptop. Persatuan dan kemajuan perempuan menjadi tolak ukur kemajuan sebuah pergerakan. Perempuan yang berkumpul dalam lingkaran-lingkaran mininya, terkadang perlu bergabung menjadi lingkaran yang lebih besar untuk memastikan kemajuan negara. Naluri alamiahnya seorang ibu adalah menjaga agar anak yang dilahirkannya hidup aman dan terjaga, maka tidak heran bila tidak ada kredit macet di BWM. Tidak hanya si perempuan mampu menjaga bisnisnya berjalan, tetapi dia juga menjaga kawan-kawan sekelompoknya dalam BWM.


Saya jadi ingat ketika duduk bersama ibu-ibu senior di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, tahun 2017 lalu. Kami membicarakan deklarasi Kebangkitan Nasional Jilid II. Saya ingat bagaimana awalnya ibu-ibu ini resah dalam mencari semangat untuk Indonesia bangkit dari ancaman radikalisasi anak-anak muda. Lalu saya bilang, “Bu, ada sesuatu yang spesial tentang semangat ibu-ibu di sini,” dan saya ceritakan sejarah Kenya mencapai kesepakatan perdamaian karena ibu-ibunya bersatu padu menekan pemangku kebijakan. Ada banyak hal yang bisa dilakukan perempuan muda, namun ada juga hal-hal yang hanya ibu-ibu yang bisa lakukan. Mengingat kematangan mayoritas ibu-ibu yang ikut rapat itu, sambil tersenyum saya bilang, “Ini namanya the power of emak-emak, Bu.” Dan sekejap, mata mereka bersinar mendengar sebutan tersebut. Tidak ada maksud apa-apa bagi saya mengatakannya selain mendeskripsikan realita. Semenjak itu, saya lebih sering mendengar dan melihat kalimat “the power of emak-emak” digunakan untuk menyemangati ibu-ibu. Eh, kok di Pilpres 2019 ini malah dijadikan slogannya Prabowo-Sandi? Ha-ha-ha. Padahal, the power of emak-emak lahir pada momentum Kebangkitan Nasional II. Itu menurut saya.


Deklarasi Kebangkitan Nasional II, 3 Juni 2017.

Kesimpulannya, memang Sudan dan Indonesia berbeda. Tetapi kegigihan perjuangan perempuannya sama dan harus diperhatikan.


My heart goes to all victims in the Sudan's crisis. May God gives you strength to walk towards brighter future, amen.



#indonesia #sudan #mesir #egypt #crisis #women #perempuan #kebangkitannasional #deklarasi #candid #womenempowerment

121 views
Boleh aku kirim update?
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey Snapchat Icon
You know what is right, do right.

© 2023 by Arianna Castillo​. Proudly created with Wix.com