Search

Some of My Lowest Points in Life


Waktu masih wartawan di Mesir, ngeliput piramid artifisial peringatan Revolusi 25 Januari.

Beberapa waktu lalu, aku mengisi Webinar yang diselenggarakan Sobat Cyber Indonesia. Temanya, “Women in Digital: Be Confident!” Inti dari sesi ini adalah aku memberikan motivasi kepada audiens, terutama yang perempuan, untuk menjadi percaya diri dalam dunia kerja, termasuk dunia kerja digital. Pertanyaannya bagaimana supaya berani?

Menurut aku, motivasi bukan hanya datang dari masa kejayaan, tapi perlu dilihat dari masa kegelapannya. Hahaha. Jadi, aku sharing some of my lowest point in life atau beberapa titik terendah dalam hidup aku.

Cek videonya di sini. Sesi saya dari menit ke 39, by the way.

So, salah satunya ketika aku harus SMA ke Mesir dan bahasa Arab aku belum sefasih itu. Perlu diketahui, bahasa Arab yang digunakan sehari-hari di Mesir sedikit berbeda dengan bahasa Arab yang dipelajari di sekolahan. Ya seperti bahasa Indonesia EYD dan bahasa daerah Betawi lah. Sama-sama bahasa Indonesia, tapi beda. Sehingga, aku mengalami kesulitan bercakap-cakap di masa awal aku hidup di Mesir. Hingga sampai ke momen di mana teman baik aku dikerjain. Kami hanya dua orang perempuan waktu itu. Handphone dia dicuri sama gebetannya yang orang Mesir. Kami mau meracau nggak bisa, apalagi berantem dengan bahasa Arab. Walau akhirnya kami pergi lapor ke polisi, tapi tetap saja handphone itu sudah lenyap dan laki-laki itu sudah menikmati hasil menjual barang haram itu. Nggak ada yang nolongin kita. Kami jadi dua orang perempuan nggak berdaya aja gitu.

Di saat berantem itulah aku menyadari kalau aku harus belajar bahasa Arab lebih giat. Bukan hanya untuk lulus dari sekolah dan dapat ijazah, tapi supaya juga bisa bantu orang kesusahan. Seperti yang aku alami waktu itu.

Kini, kalau ada orang yang tidak adil sama aku, aku bisa berdebat dalam bahasa Arab Mashry (slang Mesir). Dan ya, kemampuan aku ini dimulai dari titik memilukan waktu itu.

Momen terendah ke dua yang aku share adalah ketika aku kehabisan uang sangu waktu masih sekolah di Mesir. Sudah jauh banget dari orang tua, belum punya pekerjaan, nggak ada uang lagi. Umur masih 16 tahun rasanya. Aku tinggal berdua dengan kakakku, situasi dompetnya mirip.


Di Mesir, hari pertama dalam mingguan adalah hari Minggu, karena liburnya Jumat dan Sabtu. Jadi, hari Minggu itu aku terbangun dengan mengingat di dompet cuma ada uang EGP 1,25 setara Rp 2.300. Kalau aku pakai pergi ke sekolah, yang mana jaraknya satu jam naik kendaraan umum ke sana, uang aku bisa habis dipakai pulang pergi. Ekonomi keluarga aku sedang kurang baik saat itu, jadi aku juga tidak mau memaksa bapakku mengirimkan uang. Untung di dapur masih ada beras, telor, sama ayam goreng beku Koki. Oh yum! That’s my favorite frozen fried chicken in the world! Lumayan buat makan perut.

Jadilah aku tetap pergi ke sekolah. Deg-deg-degan. Tapi aku ingat apa kata bapakku, “Kalau untuk makan dan sekolah, Allah pasti adakan untuk hamba-Nya.” Ya sudahlah aku sekolah hari itu, kalau besok sudah nggak punya uang buat berangkat sekolah lagi ya nggak apa-apa deh, izin sama ibu guru aja.


Di halte bus, aku menunggu bus tua yang ongkosnya murah. Sudah lama aku tunggu, nggak datang-datang entah kenapa. Memang jaman itu, nunggu transportasi di Mesir bikin makan umur sama makan hati. Tapi, ada perbedaan ongkos naik bus yang tua dan baru. Kalau yang tua, ongkos jalan hanya EGP 0,25 dari tempat aku ke sekolah. Kalau yang bagusan, dengan transit di halte bus satu lagi, aku harus bayar EGP 0.75. Dengan uang EGP 1,25 yang aku miliki, tentu bus tua menjadi pilihan aku.

Bus yang aku tunggu tak kunjung datang, sampai muncul bus baru yang lebih mahal ongkosnya. Berhubung jam sudah bikin telat masuk sekolah, aku naiki saja bus itu. Ya sudah lah, pikir aku, walau uang hari ini habis, yang penting bisa pergi sekolah.

Pas mau bayar ke kenek, aku disapa sama teman yang mau berangkat kuliah juga. Ngobrol-ngobrol tanya kabar, eh… dia bayarin ongkos bus aku. Baiknya... Nggak ada angin, nggak ada hujan. Ya Allah.. rezeki!!!

Di situ lah aku belajar, bahwa keyakinan pada Allah SWT. dan niat baik untuk belajar dan bekerja selalu berjalan beriringan untuk membantu manusia menjalani hidupnya. Dan selama beberapa hari itu aku memang hidup dengan Rp 2.000 aja. Kesimpulannya, aku bisa hidup kok walaupun uang tidak seberapa. Nggak ya langsung mati juga. Hidup dan mati kan tidak diukur dari seberapa banyak uang di dompetmu.

Moral story yang aku pegang sampai saat ini adalah kalau aku lagi kesusahan uang, aku tahu aku tidak akan mati walaupun susah. Aku masih punya tenaga, pikiran, dan napas untuk berusaha supaya hidup aku bisa lebih baik. Dewasa ini, kalau aku lagi susah dan nggak ada duit, aku ingat masa itu di mana cuma punya uang Rp 2.000 doang dan hampir nggak bisa pergi sekolah, tapi hidup tetap berjalan. Kalau waktu itu aja aku bisa survive, pasti sekarang ada jalan juga buat survive.

Dalam sesi Pesantren Online itu banyak audiens yang tanya aku, seperti, dengan melihat kesuksesan aku saat ini, apakah aku pernah gagal? Of course I did! Pernah banget, lah. Pernah gagal di bisnis, politik, apalagi percintaan. Nobody’s perfect and nothing is perfect. Namun, saya berusaha berdiri lagi dan berusaha. Kadang ada yang bantu, seringnya harus berdiri di kaki sendirian.

Jadi aku bersyukur ada yang menilai aku sudah sangat sukses sekarang. Ini membuat aku merasa rendah hati dan won’t take things for granted.

Yang pasti, sesusah-susahnya hidup kita, kamu nggak akan mati kalau Allah belum menakdirkanmu mati. Kalau sudah begitu, berusahalah, insyaAllah ada jalan dan hikmahnya.



Ayam goreng penyelamat pelajar hemat di Mesir. My favorite.

41 views
Boleh aku kirim update?
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey Snapchat Icon
You know what is right, do right.

© 2023 by Arianna Castillo​. Proudly created with Wix.com