Search

Sehabis Seminar

Tak banyak yang mengerti jika radikalisme negatif bisa menjangkiti siapa saja. Bertemu dengan orang radikal pun, belum tentu bisa membuat kita langsung sadar kalau dia benar-benar radikal. Ada yang penampilan sesuai stereotype garis kanan jauh, ada yang tampilannya necis, baju taylor fit, dengan senyuman menawan. Ada yang hidupnya berpindah-pindah dari satu kampung ke kampung lainnya, ada juga yang tidur manis di atas tumpukan uang bisnis multi million dolar.


Semasa saya kerja di Mesir, saya pernah mendengar kasus pencurian dan perampokan yang hasil jarahannya itu dijual untuk membiayai tindakan terorisme. Wow.. Betapa susahnya jadi orang radikal. Tapi, ada juga yang cukup dengan datang ke masjid, berceramah, menyebarkan pamflet dan kotak, untuk mendapatkan sumbangan dari jamaah-jamaah yang naif. Belum lagi yang dibuat dengan kedok sumbangan kemanusiaan.


Saat itu tahun 2012, saya ditugaskan bekerja di Gaza, Palestina. Ketika sedang ngobrol dengan pejabat tinggi setempat, saya bilang kalau orang Indonesia suka memberikan sumbangan ke saudara-saudara muslim di situ. Dengan ekspresi penuh tanya, beliau berkata tidak pernah tahu ada bantuan yang datang, kecuali rumah sakit Indonesia yang waktu itu sedang dalam tahap konstruksi dari Mer-C. Saya jadi bertanya-tanya, kemana semua uang bantuan itu pergi? Suuzhan aja nih. Hahaa.


Semua cerita ini nyata adanya. Moral Story : Jangan lihat orang radikal negatif dari penampilannya saja, tapi dari pemikiran, cara ibadah, dan aksinya.



Foto bareng Pak Direktur Deradikalisasi BNPT Dr. Irfan Idris dan Pak Direktur Pengendalian BPIP M. Fahrurozi.



11 views
Boleh aku kirim update?
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey Snapchat Icon
You know what is right, do right.

© 2023 by Arianna Castillo​. Proudly created with Wix.com