Search

Sayap Pelindung Keanekaragaman Hayati Indonesia

Saya mau menulis tentang sosok seorang perempuan tangguh Indonesia yang saya kenal, tapi kerjanya lebih banyak di hutan daripada di gedung-gedung pencakar langit.

Siti Nurbaya Bakar. Copyright : Instagram @siti.nurbayabakar

Parama, dalam bahasa Indonesia artinya “paling unggul” . Itulah nama yang diberikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Siti Nurbaya Bakar kepada seekor Elang Jawa berusia kurang dari satu bulan, yang menetas di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) pada tanggal 7 Juli 2020 silam. Parama menetas dari telur pasangan Elang Jawa Rama (Jantan) dan Dygta (Betina).


Menetasnya Parama disambut Siti Nurbaya dengan suka cita. Baginya, Parama adalah simbol keseriusan dan bukti dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dalam upaya konservasi Elang Jawa yang merupakan Satwa Langka yang ada di alam Indonesia. Karena Elang Jawa saat ini statusnya tinggal satu tingkat lagi menuju kepunahan.


Bukan Siti Nurbaya namanya jika ia tak antusias dan amat gembira setiap mengetahui adanya kelahiran dari para satwa dilindungi yang ada di Indonesia. Ia pernah memberi nama Yusti dan Yanti, untuk dua ekor anakan Rusa Timor berjenis kelamin betina, yang lahir di Penangkaran Kampus Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK, Bogor, pada 14 Maret 2018 silam. Lalu ada juga seekor anakan Anoa di Manado, yang ia beri nama Anara, pada Januari 2018. Serta jangan lupakan kala Siti Nurbaya memberi nama bayi Orang Utan berjenis kelamin betina yang lahir di Taman Safari Indonesia, Cisarua, Bogor, pada 25 mei 2020, dengan nama Fitri. Karena hari kelahiran si bayi Orang Utan yang berdekatan dengan momen Idul Fitri saat itu.


Bagi seorang Siti Nurbaya, memberi nama bayi satwa langka yang dilindungi, bukanlah kegiatan mencuci mata dan juga bukan sekedar rutinitas yang harus dijalaninya sebagai seorang Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ada pesan besar yang ingin ia sampaikan kepada khalayak luas. Ia berkomitmen penuh dalam menjaga kelestarian satwa yang ada di Indonesia, khususnya yang berstatus dilindungi. Populasi satwa langka dan dilindungi di Indonesia kian hari kian menyusut, akibat maraknya perburuan dan perdagangan satwa liar secara illegal oleh orang-orang tak bertanggung jawab.

Siti Nurbaya menyebut bahwa kasus kejahatan terhadap satwa liar, menjadi salah satu kejahatan terbesar yang terjadi di Indonesia, dibawah kasus perdagangan narkoba dan perdagangan manusia. Nilai transaksi dari kejahatan terhadap satwa liar berdasarkan hasil penelusuran PPATK bahkan mencapai Rp 13 Triliun per tahunnya, dan terus meningkat. Maka memberi nama untuk Parama, Yusti, Yanti dan Fitri adalah simbol kepedulian dan rasa cintanya terhadap keberlangsungan hidup satwa liar dilindungi di Indonesia.


Tugas Siti Nurbaya sebagai seorang Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan jelas tidak hanya berkutat dengan memastikan perlindungan terhadap satwa-satwa liar dilindungi di Indonesia. Lebih dari itu, ada begitu banyak hal yang harus diurus oleh wanita kelahiran Jakarta, 28 Agustus 1956 ini. Ia juga diharuskan bertanggung jawab terhadap penanganan Bencana seperti Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Jelas bukanlah tugas yang mudah mengingat Karhutla seakan telah menjadi bencana musiman yang ada setiap tahunnya di Indonesia. Namun politisi Partai NasDem ini dalam perjalanannya menjalani tugas sebagai Menteri LHK justru menjadi sosok yang mampu mengatasi permasalahan Karhutla di Indonesia. Ia mendapat penilaian positif dari banyak pihak, termasuk oleh Komisi VII DPR RI.


Pada tahun 2017, Siti Nurbaya mendapat apresiasi dari Pimpinan Komisi VII DPR RI saat itu, Herman Khoeron yang menilai bahwa pencapaian kinerja KLHK dibawah kepemimpinan Siti Nurbaya sangat terstruktur dan terkonsep dengan baik. Herman menyebut bahwa Permasalahan titik api atau hotspot di Indonesia berkurang secara signifikan untuk pertama kali dalam hampir dua dekade terakhir. Titik kebakaran hutan selama 2016-2017 bahkan turun drastis sebanyak 90 persen. Keberhasilan KLHK dalam menekan penyebaran titik api atau hotspot saat Karhutla tidak lepas dari tindakan tegas yang diberikan kepada para pelaku pembakaran. Kinerja Siti Nurbaya dan jajarannya di KLHK dalam menindak dan menerapkan hukuman bagi para pelaku diakui banyak pihak. Salah satunya dari Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Bambang Hero Saharjo yang memuji penerapan sanksi bagi para pelaku dengan tidak hanya memberi sanksi pidana dan perdata, namun juga berupa sanksi administrasi, yang menurutnya hal itu secara perlahan terbukti mampu mengurangi jumlah kebakaran hutan dan lahan di Indonesia secara perlahan. Memberi tiga jenis sanksi kepada para raksasa perusak hutan yang selama puluhan tahun telah menikmati hasil hutan Indonesia secara sepihak tidaklah mudah, jika tidak disertai keberanian dan ketulusan dalam mengabdi kepada negeri.


Selain itu, Siti Nurbaya juga merealisasikan pemanfataan hutan untuk rakyat yang sebelumnya sulit dilaksanakan. Dengan penerapan konsep hutan sosial atau hutan untuk masyarakat, rakyat boleh memanfaatkan hutan dan pada saat bersamaan rakyat juga dididik untuk bisa melindungi hutan sebagai sumber kehidupan. Saat Siti Nurbaya terplih kembali untuk mengisi pucuk kepemimpinan di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, para pelaku usaha pun menyambut dengan suka cita, salah satunya Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI). Direktur Eksekutif APHI, Purwadi Soeprihanto menilai dalam kepemimpinannya, Siti Nurbaya telah meletakkan dasar-dasar perbaikan tata kelola hutan dan memberikan arahan untuk percepatan investasi, terutama pembangunan hutan tanaman industri (HTI) serta kemitraan dengan HTI dalam skala kecil.


Siti Nurbaya memang berkomitmen untuk meningkatkan kinerjanya dan mendorong beberapa subssektor untuk meningkatkan lapangan pekerjaan, yang salah satunya melalui Hutan Tanaman Industri (HTI) dalam skema hutan rakyat dan perhutan sosial. Dengan anggaran yang tebilang terbatas dibandingkan dengan Kementerian lainnya. Pencapaian KLHK dibawah Siti Nurbaya Bakar justru terbilang positif. Tugasnya tidak hanya menjaga kelestarian hutan Indonesia yang lebih dari 100 juta hektar, tapi juga bertanggung jawab menjaga lingkungan hidup beserta isinya yang ada di Bumi Pertiwi.


Menjalankan tugas berat secara senyap dengan anggaran terbatas, namun kinerjanya berada di jalur yang benar, bagus dan baik, serta terukur. Itulah Seorang Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Semoga Ibu idola saya ini selalu semangat dan amanah dalam menjaga dan memastikan kelestarian Lingkungan Hidup dan Hutan di Indonesia. Saya rasa cocok menobatkan Ibu Siti Nurbaya sebagai pahlawan kekinian, seorang pelindung Alam Indonesia.


Berikutnya saya mau menulis tentang prestasinya Ibu tangguh ini dalam menekan emisi gas kaca dan membawa PNBP buat negara. Stay tuned!

7 views
Boleh aku kirim update?
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey Snapchat Icon
You know what is right, do right.

© 2023 by Arianna Castillo​. Proudly created with Wix.com