Search

Refleksi Idul Adha di Tengah Pandemi

Sepi, tidak seperti biasanya dan terasa ada yang berbeda. Itulah yang dirasakan oleh para pedagang hewan kurban saat ini. Hari Raya Idul Adha 1441 H seharusnya menjadi momen yang dinanti oleh para pedagang hewan kurban setiap tahunnya, karena dapat meraup keuntungan yang berlimpah. Tapi, tidak untuk tahun ini. Pandemi Covid-19 yang tengah melanda telah memupus impian para pedagang kurban dalam menjemput rezeki tahunan dari penjualan hewan kurbannya. Alih-alih untung malah rugi yang didapat.


Contohnya Haerudin. Ia telah rutin berjualan hewan kurban sejak 2015. Lapaknya yang terletak di sekitar Jl. KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta pusat, biasanya selalu diramaikan oleh pembeli yang hendak berburu hewan kurban. Namun itu adalah cerita manis masa lalu. Tahun ini, dagangannya sepi pembeli. Bahkan hingga tiga hari menjelang Hari Raya Idul Adha 1441 H tiba, Haerudin baru berhasil menjual dua ekor kambing saja. Jumlah tersebut sangat jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya di hari pertama ia membuka lapaknya, hewan kurbannya minimal telah laku lima ekor. Ketika ditanya apa penyebabnya? Jawaban Haerudin sama dengan kebanyakan pedagang hewan kurban lainnya, yakni, “Pandemi virus corona”. Harus diakui, wabah tersebut telah membuat hampir seluruh pedagang hewan kurban termasuk Haerudin mengalami kerugian akibat sepinya pembeli tahun ini. Omset mereka pun jika diratakan mengalami penurunan lebih dari 50 persen.


Sepinya penjualan hewan kurban tahun ini bahkan sampai membuat banyak pedagang hewan kurban memberikan promo atau bonus. Seperti pedagang hewan kurban di kawasan Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, bernama Muhadin. Ia sampai rela menawarkan bonus “Beli 10 kambing, gratis satu ekor kambing”, guna menarik perhatian pembeli yang tahun ini sepi akibat pandemi. Hewan Kurban yang dijual Muhadin biasanya laris diborong oleh pelanggannya yang mayoritas membeli atas nama sebuah perusahaan. Namun, pandemi Covid 19 membuat banyak perusahaan harus mengetatkan anggaran bahkan hingga melakukan PHK untuk dapat bertahan. Hal tersebut secara langsung turut menghilangkan rutinitas banyak perusahaan untuk membeli hewan kurban tiap tahunnya. Promo yang diberikan Muhadin pada akhirnya memang menarik minat beberapa yayasan di Jakarta, untuk memborong kambing dagangannya. Namun penjualan tetap tidak maksimal dan seperti yang diharapkannya. Hingga dua hari jelang hari raya Idul Adha, dagangan Muhidin bahkan baru terjual kurang dari empat persen, dan tidak ada satupun pembeli dari perusahaan yang sebelumnya biasa berlangganan dengannya.


Sepinya pembeli tahun ini diantaranya tak lepas diakibatkan oleh faktor keengganan banyak orang untuk keluar rumah karena khawatir terinfeksi Covid-19. Tak kehabisan akal, demi mencegah kerugian yang semakin besar, sebagian penjual hewan kurban pun mensiasatinya dengan memberanikan diri berjualan secara daring. Cara tersebut bertujuan guna memudahkan pembeli yang hendak membeli hewan kurban, namun tidak ingin beranjak dari rumahnya. Berjualan secara online contohnya dilakukan oleh pedagang yang berada di area Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Lalu apakah dengan menyediakan layanan penjualan secara online sukses menarik minat banyak pembeli? Pada kenyataannya, rencana tidaklah selalu berjalan mulus dan sesuai dengan yang diharapkan.


Selain keengganan banyak orang untuk berpergian keluar rumah, serta sulitnya keadaan ekonomi banyak orang akibat pandemi Covid-19, juga menjadi sebab terbesar akan lesunya penjualan hewan kurban di tahun ini. Sebab terakhir bahkan secara langsung telah menurunkan daya beli banyak orang. Banyak yang menerima kebijakan pemotongan gaji dan di rumahkan. Bahkan tidak sedikit pula yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari tempatnya bekerja. Maka jangankan untuk membeli hewan kurban, sekedar untuk memastikan diri sendiri dan keluarganya dapat mengisi perut pada esok hari saja rasanya sudah membuat getir di kala senja telah datang setiap harinya.


Nestapa yang dirasakan para pedagang hewan kurban tahun ini hanyalah sepercik kecil dari dampak besar yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19. Kesulitan dan kesedihan yang dirasakan oleh para pedagang hewan kurban karena sulitnya mencari rezeki, sejatinya juga dirasakan oleh banyak orang lain di luar sana dari berbagai profesi. Entah ada berapa juta orang yang harus kehilangan pekerjaannya akibat tempatnya bekerja tidak sanggup lagi bertahan dari pandemi Covid-19. Para pengusaha di berbagai sektor, dari skala kecil, menengah, hingga besar juga tidak sedikit yang terpaksa harus gulung tikar karena sepinya pembeli.


Bagi mereka yang terkena dampak ekonomi dari pandemi Covid-19. Momen Idul Adha tahun ini mungkin saja tidak akan sama seperti tahun sebelumnya. Mungkin tidak akan ada hidangan lezat yang tersaji diatas meja makannya. Ketupat sayur dengan opor ayam hingga olahan dari daging kambing dan sapi seperti sate, sup, gulai, rendang dan lainnya, mungkin akan menjadi menu yang terlampau mewah untuk dihidangkan di tengah sulitnya perekonomian mereka.


Dalam skala luas, Hari Raya Idul Adha 1441 H juga tidak meriah. Tidak ada takbir keliling, karena kepolisian secara resmi telah melarang adanya kegiatan takbir keliling. Banyak masjid yang tahun ini meniadakan ibadah shalat Idul Adha berjamaah, demi menghindari terjadinya kerumunan dan memunculkan kluster Covid-19 yang baru. Meskipun ada, jamaahnya pun tidak banyak.


Hari Raya Idul Adha tahun ini, yang kita peringati di tengah situasi sulit akibat pandemi Covid-19 justru seharusnya menjadi momentum introspeksi diri bagi kita semua untuk selalu mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan kepada kita semua. Idul Adha tahun ini mengajarkan kita untuk merayakan kemenangan dengan rasa sabar dan ikhlas. Karena sabar dan ikhlas adalah salah satu hal yang memaknai Hari Raya Idul Adha dengan meneladani dari Nabi Ibrahim AS yang menjalankan perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Ismail AS, dengan rasa sabar dan keikhlasan yang luar biasa besar.


Kasus positif Covid-19 di Indonesia sampai saat ini belum ada tanda-tanda akan turun dalam waktu dekat, bahkan kini telah menembus lebih dari 100 ribu kasus dan terus meningkat. Ujian dan cobaan ini masih jauh dari kata usai, sehingga kita semua masih harus berjuang untuk melewatinya. Hari Raya Idul Adha 1441 H mungkin juga menjadi pelepas sejenak untuk merayakan sedikit kemenangan di tengah sulitnya keadaan karena pandemi Covid-19. Gema takbir merayakan kemenangan yang berkumandang haruslah menjadi penyemangat bagi kita semua khususnya umat muslim, untuk menghadapi ujian dan cobaan ini, melawan situasi sulit yang tengah dihadapi seluruh negara akibat pandemi Covid-19.



Selalu bertawakal kepada Sang Pencipta, menerima dengan ikhlas dan lapang dada segala pahit dan penderitaan yang telah dilalui dalam kurun waktu enam bulan terakhir ini, juga menjadi hamba adalah hal-hal yang dapat kita lakukan dan kita maknai dari Hari Raya Idul Adha 1441 H. Ingatlah selalu bahwa sesungguhnya Tuhan tidak memberi ujian kepada umatnya, melainkan umat tersebut mampu untuk menghadapi dan melewatinya.


Selamat Hari Raya Idul Adha 1441 Hijriah.

Mohon maaf lahir dan batin.

53 views
Boleh aku kirim update?
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey Snapchat Icon
You know what is right, do right.

© 2023 by Arianna Castillo​. Proudly created with Wix.com