Search

Pernikahan Dini vs. Pernikahan Anak

Updated: Dec 20, 2018

Sebutan yang benar itu pernikahan anak, tahu.. bukan pernikahan dini. Kenapa? Karena dalam sebutan bahasa inggrisnya adalah “child marriage”. Child artinya anak. Sementara kata ‘dini’ itu bermakna relatif di berbeda tempat dan tidak ada cantolan hukumnya. Lebih tepatnya, di Indonesia, yang disebut anak-anak adalah mereka yang belum menginjak umur 18 tahun. Hal ini tertuang dalam Undang-Undang Perlindungan Anak. Ingat kasus terbaru yang lagi ramai tentang seorang figur publik menganiaya dua orang anak di Bogor? Meski badannya sudah besar, keduanya masih di bawah umur 18 tahun. Laki-laki yang menggauli perempuan di bawah 18 tahun juga bisa dikatakan melecehkan anak di bawah umur, meskipun badan si remaja sudah besar. Maka mendeskripsikan pernikahan di bawah umur lebih tepat dengan sebutan pernikahan anak, bukanlah pernikahan dini.


Banyak sekali alasan kenapa pernikahan anak tidak sebaiknya terjadi, antara lain:

  1. Secara biologis, rahim anak perempuan belum siap untuk melahirkan anak.

  2. Jika rahim belum siap, maka ada kemungkinan pasokan gizi ke janin juga tidak cukup, lalu bisa berakibat stunting.

  3. Stunting dapat menurunkan kepercayaan diri dan performa anak yang akhirnya berimbas pada performa produktifitas ekonomi keluarga di masa depan.

  4. Ketidakpahaman atas konsep berkeluarga, dapat menyebabkan pasangan anak bercerai dalam waktu mereka beranjak dewasa.

  5. Dan sebagainya. Buwanyak!


Kenapa pernikahan anak kerap terjadi? Karena ada beberapa kebiasaan di masyarakat Indonesia yang membuat pernikahan anak ini menjadi sesuatu yang lumrah. Mayoritas masyarakat kita pasti mengiyakan bila ditanya, “Apakah umur kakek atau nenekmu menikah dulu di bawah umur 18 tahun?”


Di masa lalu, dengan tradisi dan keterbatasan informasi tentang kesehatan, hal ini terjadi di berbagai tempat.Hingga menjadi sesuatu yang dianggap biasa untuk diturunkan ke generasi penerus. Masalahnya tidak semua orang bisa keluar dari bayang-bayang stunting kalau himbauan tidak melakukan penikahan anak tidak dihiraukan. Optimistis itu boleh, namun mengantisipasi juga perlu. Pekerjaan rumah kita banyak, and this time it’s really really pekerjaan di rumah tangga kita sendiri (di masa depan, bagi kamu yang masih jomblo ya, mbloo).



Pada tanggal 14 Desember 2018 lalu, Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan judicial review pada Undang-Undang Nomo 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Yang intinya, batas umur minimal menikahnya perempuan bukanlah 16 tahun lagi karena bagi MK batas usia 16 tahun itu bertentangan dengan UUD 1945. Lalu, MK memerintahkan DPR RI untuk membahas batasan minimal usia tersebut dalam kurun waktu tiga tahun.


This is great! Tapi perlukah kita bersuka cita? Saya rasa belum. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mensosialisasikan umur yang pantas bagi perempuan untuk menikah pada 21 tahun dan laki-laki di 25 tahun, salah satu pertimbangannya adalah perihal kesehatan reproduksi. Jadi ada selisih tiga tahun dari boleh menikah dan siap menikah. Apakah ini artinya menunda kehamilan, hingga 21 tahun bagi yang belum, adalah sesuatu yang disarankan?

Di lain pihak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menyarankan umur minimal perempuan menikah adalah 20 tahun. Maka, revisi undang-undang tersebut harus dikawal betul di DPR, agar perempuan muda tidak lagi dirugikan karena masalah hukum ini.


Dalam sebuah Talk Show di Jember, saya membahas soal itu. Tidak mudah memang, bila menikah muda tapi tidak langsung punya anak. Tekanan sosial menjadi penyebab utama, biasanya. Pertanyaan, “Kapan punya anak?” menghantui di setiap percakapan dengan anggota keluarga yang lebih senior atau dari teman-teman. Belum lagi kalau nafsu tak terbendung tidak disertai dengan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, hak-hak perempuan, dan teknologi yang bisa mendukung kesehatan manusia. Mbrojol weees~


Pada akhirnya, semuanya memang kembali ke pribadi masing-masing. Toh pilihannya jelas; menikah sekarang atau nanti, punya anak sekarang atau nanti, menikah anak atau menikah dewasa. Negara berbaik hati untuk memberitahu dari awal hal-hal yang harus dipertimbangkan. Jangan sampai salah mengambil keputusan.

81 views
Boleh aku kirim update?
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey Snapchat Icon
You know what is right, do right.

© 2023 by Arianna Castillo​. Proudly created with Wix.com