Search

Peran Perempuan dalam Konflik

Updated: May 23, 2018

Suhu di Indonesia sedang panas dengan meledaknya bom di Depok, Surabaya, Sidoardjo, dan Pekanbaru. Salah satu hal yang menarik perhatian khalayak adalah peran ibu dan anak dalam pengeboman tersebut. Banyak pihak yang menyayangkan tindakan pengebom yang membawa anak-anaknya. Di lain pihak, ada yang maklum dengan argumentasi bahwa kedua orang tuanya tidak ingin anaknya hidup sebatang kara, terlebih anak-anaknya masih kecil. Dalam kasus ini, beberapa pelaku adalah perempuan dewasa dan anak-anak.


Sejauh apakah seorang perempuan bisa terlibat dalam konflik?


Di perbatasan Mesir - Libya, sesaat setelah meninggalkan Mesir.

Meskipun ada perbedaan jelas antara jenis kelamin biologis dan karakter, pada umumnya gender dikaitkan dengan laki-laki sebagai maskulin dan perempuan sebagai feminin. Kebanyakan kita memposisikan perempuan sebagai korban atau tokoh perdamaian. Jadi pertama-tama, kita perlu meluruskan stereotype dan generalisasi apa saja yang bisa/boleh dilakukan laki-laki dan perempuan. Tidak semua perempuan lemah dan tidak semua laki-laki kuat perkasa. Ketika perempuan diposisikan sebagai korban, imajinasi kebanyakan memposisikan laki-laki sebagai pelaku. Begitu pula ketika laki-laki menjadi korban, kebanyakan mengira laki-laki juga lah pelakunya. Namun, jika kita mensejajarkan spectrum kesetaraan gender, perempuan juga bisa menjadi pelaku.


Di negara yang berkultur timur dan patriakat, menerima konsep seorang perempuan sebagai “penjahat” tidaklah biasa karena perempuan digambarkan sebagai sosok yang lembut dan harus dilindungi. Sementara, peran laki-laki dan perempuan dalam konflik itu ada banyak bentuknya. Sehingga, jika kita mengesampingkan gender, seseorang dengan jenis kelamin apapun dapat berpartisipasi dalam tindak kejahatan.



Peran pasca konflik

Wilayah publik, seperti keamanan negara, politik, pembangunan ekonomi, cenderung dikategorikan sebagai giat maskulin. Sementara wilayah privat layaknya merawat keluarga, melangsungkan tradisi, dan reproduksi keturunan, lebih diasosiasikan dengan giat feminin. Perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan secara langsung ditempelkan kepada giat maskulin (sebaiknya laki-laki saja) dan giat feminin (urusannya perempuan). Bila kita pandang dari sudut pandang ini, sesuai dengan karakteristik feminin yang dimiliki perempuan pada umumnya, perempuan dapat menjadi tokoh perdamaian yang baik.


Terjadinya sebuah konflik mengakibatkan perubahan perilaku, psikologi, dan cara pandang seseorang. Hal tersebut akan berpengaruh pada caranya berinteraksi sosial. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat terhadap tentara yang diterjunkan ke Afghanistan, terlihat perubahan jelas pada pupil mata mereka pada saat sebelum pergi ke medan perang, saat di zona tarung, dan setelah kembali ke tanah airnya. Perlu dipahami, seseorang yang baru keluar dari zona konflik memiliki cara hidup yang berbeda sebelumnya; tidak ada tuntutan untuk memenuhi nafkah keluarga, berpendidikan tinggi, ataupun berpakaian modis. Sehingga sekembalinya ia ke kehidupan sosial yang umum, diperlukan waktu adaptasi yang dapat diarahkan perempuan.


Perempuan memiliki rasa empati yang lebih tinggi dari pada laki-laki, sehingga perempuan semestinya mampu lebih sabar untuk menuntun orang-orang yang terkena langsung dampak konflik. Ini adalah masa yang sensitif, dimana jika tidak diurus dengan baik, dapat membuat pelaku konflik punya kecenderungan untuk melakukan kekerasan lagi. Perempuan-perempuan yang berada dalam situasi ini harus didampingi dan dilatih emotional intelligence-nya. Siapakah yang bisa memegang peranan pendamping tersebut? Jika di suatu negara belum ada badan yang khusus dibentuk untuk penanganan pasca tindak terorisme, maka pemimpin lokal atau tokoh masyarakat setempat dapat bahu membahu untuk mendampingi perempuan-perempuan ini melakukan deradikalisasi. Tokoh masyarakat juga tidak bisa dibiarkan bergerak sendiri. Upaya deradikalisasi adalah pekerjaan yang menguras emosi, sehingga dibutuhkan kerja sama tim dengan rukun warga sekitar.


Apa yang terjadi di Indonesia adalah sebaliknya. Banyak warga yang menjauhi seseorang atau sebuah keluarga sekembalinya mereka dari wilayah konflik di luar negeri (Irak, Suriah, Afghanistan, dsb). Hal ini secara tidak langsung menciptakan lingkungan yang tidak ramah dan tidak kondusif untuk mengembalikan nasionalisme seseorang. Meskipun Indonesia dinyatakan sebagai negara paling murah senyum di dunia, Indonesia belum menjadi tempat yang ramah untuk deradikalisasi. Perintah Presiden Joko Widodo menyangkut penumpasan terorisme telah membuat Indonesia menjadi negara yang benar-benar anti-teroris, sebuah langkah besar untuk pengamanan tanah air.


Sebagai warga sipil, kita harus meneruskannya ke dalam tindakan kita juga dengan meningkatkan kesadaran kita terhadap lingkungan sekitar. Jika melihat ada orang dengan tindak tanduk mencurigakan, ada baiknya dilaporkan ke RT, RW, atau kepolisian. Menurut hemat penulis, ketika menemukan pasangan yang radikal, deradikalisasi dulu perempuannya dan jagalah kesadarannya untuk menjauhi tindakan terorisme, sehingga keluarga yang dibangunnya akan mengikuti. Tentu lebih mudah untuk acuh tak acuh, tapi dari kecuekan itu lah kita menciptakan celah di masyarakat yang akhirnya membuat radikalisme dan terorime berkembang.



Salam perdamaian,

Di pusat kota Benghazi saat demonstrasi sedang berlangsung. Senapan yang dibawa anak kecil ini adalah replika/mainan.

Foto-foto diambil saat betugas meliput ke wilayah pemberontak di Benghazi, Libya, pada 2010, saat pemberontakan terhadap Moammar Qaddafi sedang berlangsung.

71 views
Boleh aku kirim update?
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey Snapchat Icon
You know what is right, do right.

© 2023 by Arianna Castillo​. Proudly created with Wix.com