Search

Ngeri-Ngeri Sedap Dunia Digital


Swafoto dengan penyelenggara dan narsum. Ki-ka: Ivana Krenong, Mira Sahid, dan Anita Karolina.

Hari Kamis minggu ini saya ke Sangihe, Sulawesi Utara, untuk menjadi narasumber di Seminar Nasional Literasi Digital. Ada beberapa pertanyaan menarik yang diajukan moderator kepada saya. Di halaman ini, saya mau sharing jawaban saya secara singkat untuk audiens di Sangihe pagi itu.


Bagaimana pendapat saya tentang perkembangan digital dalam content sharing dan posting di social media saat ini?

Jawaban saya, “Liar banget.”


Pada dasarnya, kita tidak bisa mengontrol orang mau posting apa kan? Sehingga cara terbaik untuk mengontrol itu ya dengan mengontrol diri sendiri. Harus diakui, orang itu lebih mawas ketika berhadapan dengan media mainstream, di depan kamera televisi, microphone radio, dan bentuk media mainstream lainnya. Tapi begitu sudah selesai, mereka bisa berperilaku berbeda di media sosialnya. Semua yang kita lihat di televisi, dibahasnya di media sosial sekarang. Jadi, meskipun itu dua dunia yang berbeda, tapi irisan antara ke duanya sangat banyak dengan garis merah yang tipis sekali.


Perlu diketahui, baik Google, Facebook, Twitter, dan kawan-kawan baru saja memberlakukan penyaringan konten as recent as three or four years ago. Tidak lama setelah skandal election fraud Amerika Serikat terkuak dan dianggap merugikan negara yang dipimpin Donald Trump saat ini. Padahal, Facebook itu sudah eksis lebih dari seabad. Bayangkan bagaimana tidak banyak sekali konten negatif yang menyebar di internet karena sekali diposting, jejak digital tidak bisa dihapus.



Serunya swafoto penyelenggara dari ibukota, lokal, dan juga narasumber habis makan malam.

Banyak orang yang akhirnya mengakses berita online karena mencari apa yang menurut mereka benar, sesuai dengan standar kebenaran mereka. Tidak jarang pula, berita-berita yang tersebar di platform online tersebut adalah berita hoax dan tidak kredibel. Bagaimana pendapat saya sebagai jurnalis dan content creator akan hal tersebut?

Sebagian besar orang Indonesia yang menggunakan internet dan media sosial memiliki akun Facebook dan Instagram. Manusiawi sekali jika melihat orang jadi senang sendiri karena mendapatkan banyak ‘likes’ di kanal media sosialnya. Hal ini berhubungan dengan reaksi hormon oksitosin yang positif ketika orang menyukai apa yang kita lakukan. Secara tidak langsung, ini mengungkapkan perilaku manusia mengunggah gambar daring itu untuk mendapatkan pembenaran atas apa yang dia anggap bagus (sehingga pantas dia unggah di halaman media sosialnya). Ini kan hampir sama dengan orang yang mencari berita untuk mendapatkan pembenaran atas pemikirannya sendiri. Ancaman pembodohan on line pun semakin terlihat dari fakta bahwa perilaku on line kita meninggalkan jejak lewat cookies. Jadi, bisa saja apa yang kita cari di website mesin pencari itu pun tidaklah 100% akurat karena, satu: jawaban yang diberikan pada kita didasarkan analisa cookies dan cache yang tersimpan di piranti, dan dua: tumpukan iklan dari perusahaan yang menggunakan Google Ads dan SEO untuk menempatkan iklan mereka di halaman terdepan Google. Nah, kalau halaman pertama Google itu sudah habis duluan dengan iklan dan si pencari tidak membuka ke halaman dua, apakah mungkin dia mendapatkan jawaban yang benar? Sehingga kita harus lebih berhati-hati ketika mencari informasi on line.


Di jaman ketika mencari referensi hanya bisa dilakukan di perpustakaan, keabsahan informasi dapat diyakini 100% karena referensi buku yang jelas, ketimbang saat dimana aliran informasi dan pengetahuan bergulir begitu cepat yang tanpa sadar membuat masyarakat bisa megap-megap. Intinya, kita harus lebih sadar dengan perilaku kita secara digital.


Memang kita melakukannya sendiri tanpa orang di kanan kiri ngelihatin waktu kita lagi mengunggah foto apapun, tapi big data menyimpannya dan data kamu sudah, secara tidak langsung, terekspos ke orang banyak.


Urusan digital itu ngeri-ngeri sedap ya!





#digital #literasi #sangihe #sulawesiutara #seminar #seminarnasional #lokakarya

43 views
Boleh aku kirim update?
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey Snapchat Icon
You know what is right, do right.

© 2023 by Arianna Castillo​. Proudly created with Wix.com