Search

Mirisnya Memori Sekitar Hari Anak Nasional 2020


Jumat, 10 Juli 2020, dunia musik tanah air berduka kala Erwanda Lukas atau yang dikenal dengan nama panggung Papa T Bob meninggal dunia di usianya yang ke 59 tahun akibat sakit diabetes yang telah dua tahun dideritanya. Namun pihak yang merasa kehilangan paling besar sejatinya adalah masyarakat Indonesia, terutama anak muda Indonesia, khususnya bagi mereka yang menjalani masa kanak-kanak di era 90an hingga awal 2000an.

Dapat tergambarkan lewat ribuan postingan di berbagai platform media sosial yang berisi ungkapan kesedihan mendalam dari banyak anak muda di seluruh Indonesia. Mereka merasa kehilangan karena langsung terjebak nostalgia akan masa kecil yang begitu indah dan penuh keceriaan dengan lagu-lagu anak ciptaan Papa T Bob.


Bagi generasi yang terlahir dan menjalani masa kanak-kanak di era pertengahan 80 hingga akhir 90an, sosok Papa T Bob pastinya sudah tak asing lagi. Namanya selalu terpampang jelas di banyak sampul kaset lagu anak-anak atau dibawah judul lagu yang diputar di kaset video kala itu. Papa T Bob adalah seorang pencipta lagu anak-anak legendaris dan dapat pula dikatakan yang terpopuler di Indonesia. Hampir seluruh lagu-lagu ciptaannya menemani masa kecil setiap anak di Indonesia.


Selain mewariskan banyak lagu anak-anak, Papa T Bob juga mengorbitkan banyak penyanyi cilik Indonesia. Hampir semua penyanyi cilik yang muncul di era awal 90an hingga awal 2000an berhasil meraih kesuksesan berkat menyanyikan lagu-lagu anak ciptaannya. Sebut saja Alfandy, Leony, dan Dhea Ananda yang tergabung dalam Trio Kwek Kwek. Mereka populer lewat lagu anak seperti “Jangan Marah” atau “Katanya” serta “Tanteku”. Lalu ada juga Enno Lerian yang namanya langsung meroket setelah menyanyikan lagu “Nyamuk Nakal” dan “Du Di Dam”, serta jangan lupakan juga Tina Toon dengan lagu “Bolo-Bolo”, dan Joshua Suherman dengan lagunya “Air”. Itu semua adalah sebagian kecil dari lagu-lagu anak populer ciptaan Papa T Bob.


Selain Kepergian Papa T Bob. Tahun 2020 juga menjadi tahun berduka bagi pecinta kartun di Indonesia, seiring berpulangnya Prabawati Sukarta, yang merupakan pengisi suara pertama karakter Shizuka di kartun Doraemon berbahasa Indonesia pada 15 Juni 2020. Sekitar satu bulan setelahnya, pengisi suara pertama karakter Doraemon yakni Nurhasanah juga berpulang ke Maha Kuasa.


Masa kanak-kanak dimana banyak penyanyi cilik bermunculan juga dibarengi dengan begitu banyaknya tayangan untuk anak-anak di layar kaca TV Indonesia. Film-film robot seperti Power Ranger, Ultraman dan Ksatria Baja Hitam, hingga film kartun anak seperti Sailor Moon dan Doraemon selalu menemani anak-anak di pagi dan sore hari. Begitu banyaknya tayangan anak kala itu yang utamanya di hari minggu, menciptakan istilah “Kartun Maraton” dengan Doraemon dianggap sebagai kartun yang paling digemari. Bahkan sampai saat ini, Doraemon masih menjadi satu-satunya acara anak di era 90an yang masih tayang di TV nasional.


Seiring memudarnya trend penyanyi cilik di Indonesia, begitu pula dengan kecenderungan penonton acara anak seperti Doraemon. Meski sampai saat ini masih ditayangkan. Tidak menjamin anak-anak di hari minggu pagi berbondong-bondong menyaksikannya. Justru menurut data dari RCTI, selaku stasiun TV yang menayangkan kartun Doraemon sejak tahun tahun 1990, menyebutkan bahwa penonton Doraemon dari tahun ke tahun kian bertambah tua. Artinya, kartun tersebut hingga kini ditonton oleh orang yang menjalani masa kecil di era 90a dan awal 2000an, artinya minimal usia mereka saat ini menginjak 17 tahun. Jelas itu jauh dari kesan Doraemon yang hadir diperuntukan utamanya untuk anak berusia 3 hingga 12 tahun. Lantas apa yang ditonton oleh anak-anak masa kini?


Anak-anak masa kini cenderung lebih gemar mencari tontonan di layar gadget ketimbang TV. Jika ditelaah, saat ini trendnya adalah tayangan akan mengikuti selera pasar. Maka artinya stasiun TV ataupun Content Creator channel YouTube akan membuat dan menyajikan tayangan yang memang tengah digandrungi oleh masyarakat. Pencipta lagu juga tidak akan menulis lagu bertemakan anak, karena selera pasar tidak menghendakinya. Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika saat ini tidak ada lagi tayangan anak-anak seperti kartun ataupun lagu anak yang isi liriknya bertemakan anak-anak. Tayangan saat ini didominasi oleh sinetron yang unsur pendidikan anaknya minim. Bahkan banyak sinetron bertemakan anak dan remaja yang mirisnya ceritanya adalah tentang percintaan. Baru-baru ini sebuah sinetron yang ditayangkan di salah satu stasiun TV swasta bahkan mendapat teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) terkait isi ceritanya yang mengisahkan percintaan di kalangan pelajar SMP, sebuah usia yang jauh di bawah umur. Perihal lagu anak pun sama memilukannya, kita seringkali menyaksikan adanya ajang kontes menyanyi yang ditujukan untuk anak-anak di stasiun TV nasional, namun lagu yang dibawakan untuk orang dewasa dengan tema percintaan.


Dengan kenyataan seperti diatas, maka tidak mengherankan jika akhirnya anak-anak masa kini lebih banyak memilih mencari hiburan di layar gadget. Orangtua mereka pada umumnya memberi gadget kepada ana-anaknya untuk memberikan tayangan anak di YouTube atau aplikasi lainnya, atau pula memberikannya permainan yang sesuai untuk anak-anak. Hanya saja, niat baik tersebut dapat menjadi buah simalakama, karena anak pada akhirnya menjadi kecanduan gadget, dan lebih berbahayanya lagi anak berpotensi dapat melihat konten negatif atau tayangan yang seharusnya belum diperbolehkan untuk mereka lihat jika luput dari pengawasan dari orang tuanya. Secara tidak langsung, hal tersebut dapat mempengaruhi kepribadian, cara berpikir, dan perkembangan psikologisnya.


Di zaman yang semakin modern dan serba praktis. Maka anak bersentuhan dengan gadget adalah sebuah hal yang tidak dapat terhindarkan. Selain gadget pun kini merupakan kebutuhan untuk orangtua dalam berkomunikasi dengan anaknya. Ditambah dengan pandemi Covid-19 yang saat ini melanda telah memaksa kegiatan sekolah dilakukan secara daring, sehingga anak semakin sulit lepas dari gadgetnya. Anak pun akan bingung seandainya kedua orangtuanya tidak memberikan gadget kepadanya, karena saat ini tidak banyak lagi hal menarik yg bisa dilakukan anak masa kini di luar sana.


Kini hampir tidak ada lagi kebersamaan anak-anak bermain permainan tradisional di luar rumah, melihat anak-anak bermain layangan, kelereng, petak umpet adalah telah menjadi hal yang langka untuk disaksikan di masa kini di perkotaan. Jika keadaannya sudah seperti itu, anak-anak akan semakin lengket dengan gadget, karena tidak adanya kegiatan positif dan menarik diluar rumahnya.

Tepat pada hari ini, 23 Juli 2020 merupakan peringatan Hari Anak Nasional (HAN). Tak terasa sudah 35 tahun diperingati. Mirisnya, kondisi anak-anak Indonesia saat ini justru terlihat tidaklah lebih baik dari saat pertama kali Hari Anak Nasional disahkan lebih dari tiga dekade lalu. Dahulu, permasalahan anak mungkin porsinya adalah ke ranah kesejahteraan. Seperti misalnya dari banyak anak-anak di Indonesia saat itu banyak yang tidak mendapat asupan bergizi karena kedua orangtuanya kesulitan secara ekonomi, hingga belum meratanya pendidikan di Indonesia membuat banyak anak tidak mendapat pendidikan yang berkualitas, karena tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Saat ini, tingkat kesejahteraan rakyat Indonesia memang sudah jauh meningkat, pendidikan pun sudah hampir tersebar rata ke berbagai daerah, dengan kualitas yang semakin baik pula. Sayangnya masalah tentang anak bukanlah soal gizi dan juga pendidikan semata. Namun juga meliputi persoalan seperti moralitas. Tidaklah salah jika menganggap anak masa kini mengalami degradasi moral. Sekarang begitu sering kita melihat banyaknya pemberitaan tentang tindak kejahatan yang pelakunya tergolong masih dibawah umur bahkan cenderung masih anak-anak.


Di tahun 2020 ini saja terdapat banyak kejahatan dengan pelaku anak dibawah umur yang menyita perhatian publik, baik tindakan penganiayaan berujung pembunuhan, dan pemerkosaan yang diantaranya :


1) Seorang pelajar di Palembang menganiaya dan membunuh seorang wanita dan menaruh mayatnya dibawah kasur hotel.

Rabu, 8 Juli 2020, Pelajar yang masih duduk di bangku kelas 1 SMA berinisial FAT membunuh seorang wanita yang juga merupakan seorang siswi SMA berinisial VYN. FAT awalnya berniat memeras uang korban, namun karena korban melawan, FAT kemudian menganiaya dan membunuh korban dengan cara menjerat lehernya menggunakan seutas tali. Pelaku ditangkap selang beberapa jam setelah jenazah korban ditemukan pihak hotel.


2) Seorang pelajar di Sawah Besar, Jakarta Pusat membunuh seorang balita karena terinspirasi film bergenre horor yang ditontonnya.

NF, seorang remaja perempuan berusia 15 tahun membunuh seorang balita berusia 5 tahun berinisial APA yang merupakan teman main adiknya pada 6 Maret 2020. NF membunuh korban dengan cara menenggelamkan kepalanya ke bak mandi dan menusuk leher korban dan kemudian menyimpan mayatnya di dalam lemari baju miliknya. Kasus ini terungkap setelah NF menyerahkan diri ke Kepolisian Tamansari, tak lama setelah ia membunuh korban. Dalam membunuh korban, NF mengaku terinspirasi dari film bergenre horor “Child’s Play”. Ironisnya pelaku NF ternyata tengah hamil 3,5 bulan.

3) Lima belas anak dibawah umur melakukan pemerkosaan terhadap seorang siswi SMA di Maluku Tengah.

17 pelajar dengan 15 diantaranya masih dibawah umur melakukan pemerkosaan terhadap seorang siswi di Maluku Tengah pada 31 Januari 2020 silam. Diketahui seluruh pelaku telah melakukan pemerkosaan terhadap korbannya sebanyak enam kali di sejumlah lokasi berbeda.


4) Empat pelajar SMP di Pandeglang, Banten memperkosa siswi SMP secara bergiliran di Pantai Carita

Berawal dari perkenalan di media sosial Facebook, seorang siswi diperkosa secara bergiliran oleh empat pria yang juga masih berstatus pelajar SMP.


5) Tujuh pelajar SMK di Deliserdang, Sumatera Utara memperkosa adik kelas dan merekam adegannya.

Siswi SMK berinisial D menjadi korban pemerkosaan 7 kakak kelasnya berkali-kali di lingkungan sekolah dan di rumah kosong pada 7 April 2020. Akibatnya korban D mengalami depresi.


6) Pelajar SMA memperkosa siswi SD dua hari berturut-turut.

Kamis, 2 Januari 2020. Dua orang pelajar asal Pallatinkang, Kabupaten Takalar, berinisal R dan A yang masing-masing berusia 18 dan 16 tahun memperkosa seorang siswi SD berinisial DS yang masih berusia 12 tahun. Diketahui kedua pelaku dan korban berkenalan di media sosial.


Penganiayaan berujung pembunuhan dan pemerkosaan adalah dua tindakan kejahatan yang kerap menimpa anak-anak saat ini. Mirisnya kasus tersebut justru banyak dilakukan oleh orang terdekatnya, yakni orang tuanya sendiri. Pada tahun 2020 sudah tidak terhitung berapa banyak kasus penganiayaan berujung pembunuhan serta pemerkosaan anak oleh orang tua, diantaranya:


1. Seorang bocah berusia 9 tahun di Sungai Kakap, Kalimantan Barat tewas setelah dianiaya ibu kandung dan ayah tirinya pada 7 Januari 2020. Korban mengalami pendarahan di kepala, ulu hati dan perut. Serta sobekan di dagu dan lebam di pipi kanan.


2. Balita berusia 3 tahun berinisal GL di Desa Silale, Ambon, tewas setelah dianiaya ayah kandungnya berinisial VL pada 27 Januari 2020. Korban dianiaya hingga tewas oleh pelaku karena menangis saat hendak dimandikan.


3. Bayi berusia 1,5 tahun di Pekanbaru tewas setelah dianiaya ayah tirinya pada 3 Juni 2020. Pelaku berinisal H tega menghabisi nyawa anak tirinya karena merasa kesal karena anaknya rewel dan menangis. Pelaku menganiaya anaknya dengan cara membenturkan kepalanya ke dinding dan menginjak dadanya.


4. Seorang ayah berinisial SS di Muratara, Sumatera Selatan memperkosa anak tirinya yang berusia 12 tahun pada 22 Juli 2020. Pelaku telah memperkosa korban berulang kali selama 2 minggu, dengan mengancam akan membunuh korban jika menolak.


5. Seorang anak perempuan berusia 17 tahun di Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan, diperkosa ayah kandungnya sendiri hingga hamil pada Januari 2020 silam.


Miris ketika mengetahui anak yang kita cintai dan kita rawat dengan penuh kasih sayang sejak kecil harus menjadi pelaku dan juga korban dari tindak kejahatan penganiayaan berujung kematian dan juga pemerkosaan. Orang tua yang seharusnya menjadi pelindung utama sang anak, malah justru menjadi orang yang mengantarkan sang anak ke jurang kehancuran.


Hari Anak Nasional 2020 seharusnya menjadi sebuah momentum bagi semua pihak, bagi para orangtua untuk lebih baik dan serius dalam menangani permasalahan anak. Sedini mungkin anak haruslah diajarkan dan diberi gambaran tentang empati dan simpati dengan mengajarkan nilai-nilai kasih sayang terhadap sesama manusia bahkan dengan seluruh mahluk hidup ciptaan tuhan. Nilai-nilai moralitas juga penting untuk disosialisasikan agar anak terhindar dari perbuatan menyimpang di kemudian hari. Ajaran agama juga tidak boleh dilupakan, karena dengan mengenal ajaran agama, seorang anak akan dapat melatih kesabaran dan cara berpikir yang luas serta menjaga diri dari pengaruh buruk yang datang dari luar.

Peran semua pihak dibutuhkan dalam mengawasi dan menjaga tumbuh kembang anak, dari orangtua, guru di sekolah serta seluruh masyarakat dan pemerintah harus menciptakan lingkungan yang ramah untuk anak. Masalah anak adalah masalah bangsa, karena anak adalah wujud masa depan bangsa., generasi yang kelak akan menopang negeri ini. Sehingga dibutuhkan anak-anak dengan kondisi yg sehat jiwa raga, jasmani dan rohani, hati dan pikirannya, agar nantinya tercipta sebuah generasi yang tidak hanya tangguh tapi juga sejahtera. Seperti halnya dasar pemilihan tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional, yang bertepatan dengan disahkannya UU Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.

6 views
Boleh aku kirim update?
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey Snapchat Icon
You know what is right, do right.

© 2023 by Arianna Castillo​. Proudly created with Wix.com