Search

Menyikapi Teroris Milenial

Pengeboman yang terjadi di Medan beberapa hari lalu menyingkap fakta bahwa pelakunya berumur 24 tahun. Milenial katanya, sehingga banyak orang prihatin dengan masa depan generasi penerus Indonesia. Ini mirip dengan kejadian pengeboman di Surabaya tahun lalu. Publik sontak terkejut dan bertanya-tanya mengapa pelakunya perempuan? Dengan kata lain, selama ini teroris diimajinasikan sebagai laki-laki berumur.


Menurut hemat saya, ini menjelaskan bahwa masyarakat kita masih beranggapan kalau pekerjaan tertentu hanya pantas dilakukan oleh laki-laki, terlebih yang berusia senior.


Saya tidak berusaha membela pelaku terorisme muda di sini, saya hanya ingin meng- highlight bagaimana masyarakat kita belum sepenuhnya terbebas dari stereotype gender dan umur.


Di satu sisi, kita dapat menyimpulkan bahwa di era maju saat ini, anak muda sudah bisa mengisi tempat-tempat strategis seperti menjadi banker atau start up founder. Namun, mereka bahkan juga dapat menjadi teroris. Kecenderungan anak muda untuk membuktikan eksistensinya membuat aksi-aksi heroik kerap tak terhindarkan, meski nyawa dipertaruhkan. Berangkat dari karakter yang sama, sudah seyogyanya anak-anak muda di lingkungan Rukun Tangga (RT) dan Rukun Warga (RW) diberi amanah yang lebih untuk ikut menjaga lingkungannya. Kita sekarang membutuhkan Early Warning System atau Sistem Peringatan Dini untuk mendeteksi keberadaan orang-orang berpemikiran radikalisme negatif.


Adapun pemuda-pemudi ini dapat khusus ditugaskan untuk Deteksi Dini dengan metode 3D; Dekati obyek, Dengarkan, dan Dapatkan informasi. Selanjutnya mereka pun, bersama-sama dengan pejabat RT/RW lainnya, melakukan Cegah Dini dengan 3L; Lokalisasi obyek, Lakukan sesuatu, kemudian Laporkan.


Dengan begini, ketika kita memandang generasi muda bangsa yang disebut milenial ini, kita dapat berharap bahwa mereka bisa menjadi garda terdepan menjaga keamanan, melawan milenial lainnya yang terpapar radikalisme.


Terakhir, having that in mind, tentu tidak hiperbola jika dikatakan bahwa orang-orang yang terjangkit radikalisme negatif betul-betul ada di sekitar kita. Berwujud baik laki-laki berumur, perempuan dengan anak, ataupun anak muda milenial.


Semoga kita dapat melindungi sesama anak bangsa.


Di atas awan, 15 November 2019



===============================

Photo credit: TeePublic

48 views
Boleh aku kirim update?
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey Snapchat Icon
You know what is right, do right.

© 2023 by Arianna Castillo​. Proudly created with Wix.com