Search

Gadoan Masker dan Kartu Pra Kerja

Updated: May 3

30 Hari Bercerita Challenge - Day 1

Sudah lama aku nggak nulis. Alasannya karena, sekarang, orang lebih banyak suka nonton dari pada membaca. Suatu hari, aku pernah bertanya di Instagramku, apa yang disukai followers aku; vlog atau blog? Nggak tahunya mayoritas pada suka vlog. But, I miss writing!

Jadi, inilah hari pertama aku menulis disiplin selama 30 hari. Please follow my journey at your pace. Dalam 30 hari ini, aku akan membuka pintu ke kehidupan pribadi saya. Bagaimana aku melihat hal kecil yang disyukuri dan hal besar yang bernilai. Bagaimana aku menertawakan kebodohanku dan mengambil hikmah dari kelemahanku.

Semua tulisan aku adalah pendapat pribadi dan tidak mewakili institusi manapun saya berada.

Hari ini soal masker.

Jadi kemarin saya ke supermarket dan beli masker Mediheal Collagen Impact Essential dan lagi aku pakai, literally right now. Selama bulan Ramadhan, kurang minum air, bikin kulit dehidrasi. Masker Mediheal itu, entah saking terkenal bagusnya kali ya.. Nggak ada deskripsi jelas, masker yang judulnya apa buat apa. Apalagi kalau nama produknya aneh-aneh. Kan nggak semua orang ngerti bahan apa berfungsi apa buat kulit. Jadi selain yang Collagen Impact, aku beli I.P.I Lightmax, Vita Lightbeam, dan P.D.F A.C Dressing. Keren tho nama-namanya? Di belakang ada stiker terjemahan deskripsi produk dalam bahasa Indonesia. Tapi semuanya berasa sama. Diriku tak paham. Anyway, aku nggak bermaksud me-review produk ya.. Aku cuma nulis experience dengan bungkus produk. Maskernya sih terasa segar banget di kulit.

Masker Mediheal. Yang paling kiri sudah robek karena lagi dipakai.

Pas aku bawa ke kasir, aku tanya adikku, “Chel, ini apa ya bedanya?” Ajaibnya, dia tahu! Dia familiar dengan beberapa bahan maskernya dan bilang, “Itu buat ini – ini – ini.” Aku ketawa, “Wah… Nggak percuma kamu nonton YouTube selama ini.”

Speaking of which, ternyata di program Kartu Pra Kerja itu bisa ikut pelatihan Gaya Hidup yang isinya rias wajah, potong rambut, pijat, fotografi, sama menjahit loh! Iseng-iseng, aku cari juga di YouTube, video tutorial berkonten tema itu semua. Eh, ada loh! Bahkan, untuk masing-masing konten itu saja, ada yang ditonton jutaan orang. For freeeeee~ Gretong-tong-tong! Aku mulai berpikir, kenapa harus ada pelatihan daring itu ya..?

Kartu Pra Kerja pertama kali diumumkan pada acara pertemuan akbar pendukung Capres – Cawapres Joko Widodo – KH. Ma’ruf Amin di Sentul, sekitar bulan Februari 2020. Segera setelah itu, kita-kita di Tim Kampanye Nasional blusukan menyampaikan keberadaan program itu untuk periode ke dua Presiden Jokowi. Program yang sangat bagus karena bertujuan menurunkan tingkat pengangguran di tanah air. Begitu seseorang terdaftar sebagai penerima Kartu Pra Kerja, dia akan mendapatkan pelatihan yang sesuai dengan keinginan dan kemampuannya, lalu diberi insentif selama 6 bulan. Dengan asumsi, dalam 6 bulan si Fulan akan mendapatkan pekerjaan. Atau, jika dia punya modal uang yang cukup, dia bisa bangun usaha dengan ilmu pengetahuan dari pelatihan Kartu Pra Kerja tersebut. Ini adalah konsep bantalan sosial agar kemajuan Indonesia ke depan bisa terjamin. Perfect, right?

Eh, ada virus Covid-19. Amsyong kepala semua orang.


Berubahlah pelatihan langsung menjadi pelatihan on line dengan menafikan teori belajar yang seyogyanya membutuhkan tatap langsung untuk efektifitas. Setiap peserta Kartu Pra Kerja mendapatkan anggaran Rp 3.550.000. Peruntukannya, mengutip dari Kompas, adalah sebagai berikut; Rp 1.000.000 untuk bayar kursus, Rp 2.400.000 untuk biaya hidup empat bulan (Rp 600.000/bulan), lalu Rp 150.000 sebagai bonus kalau isi testimoni.

Tahukah kamu kalau membayar Rp 1.000.000 buat kursus online yang all access itu mahal sekali? Sebagai seseorang yang sudah setengah dekade nonkrongin kursus online di luar negeri, saya jadi tahu tarif pelatihan online. Saya nggak ambil yang di dalam negeri karena sudah belajar duluan di platform online luar negeri, sebelum ada di Indonesia. Ini barang baru di sini. Sepertinya yang mahal ini research and development (R&D) deh. Lalu dibebankan ke kas pemerintah. Sebagai contoh, untuk belajar online di LinkedIn, semua orang harus rogoh kocek Rp 447.000 (USD 29,99 dengan kurs Rp 14.900) untuk mengakses lebih dari 14.000 judul kursus daring pakar-pakar riil dari segala penjuru dunia, baik terkenal maupun tidak. Sekali waktu, guru saya adalah Naomi Simson, seorang pengusaha sukses yang dikenal sebagai Red Shark di program TV Shark Tank yang fenomenal itu.

Contoh lainnya adalah Masterclass. Kalau di sini, kita bisa belajar dari peraih Nobel Ilmu Ekonomi Paul Krugman, chef papan atas Gordon Ramsay, fotografer tersohor Anne Leibovitz, sampai Pemimpin Redaksi Vogue Anna Wintour. Saat ini, bayarnya bisa per tahun saja, dulu bisa per kelas, sekitar Rp 900.000. Memang mahal, Rp 2.682.000 setahun. Tapi, hello, kapan lagi bisa belajar dari peraih Nobel? Di website itu, ada 80 lebih kelas dari THE world master.

Jadi, kalau untuk satu kelas ada yang dihargai Rp 220.000 di semua platform belajar online Kartu Pra Kerja ini, menurut saya sih itu pemborosan pajak rakyat. Mending buat Bantuan Langsung Tunai (BLT). Karena itu yang mayoritas rakyat butuhkan. Dari survei nasional yang saya lakukan, mayoritas lebih memilih BLT di urutan pertama, sementara pekerjaan baru diperlukan di urutan ke empat.

Survei NasDem Muda atas Dampak Covid-19 di Generasi Milenial. Baru akan kurilis hari Senin ya.

Ada yang bilang Covid-19 akan mereda dan habis di bulan Juni, jika kita patuh menjaga kesehatan. Itu artinya satu bulan lagi. Anggap saja, BNPB akan menambah status siaga virus Covid-19 hingga pertengahan Juni untuk memastikan kebersihan lingkungan hidup pasca pandemi, berarti ada dua bulan lagi. Jika uang Rp 3.550.000 itu dijadikan BLT Rp 1.000.000 per bulan selama tiga bulan, pemerintah bisa memberikan bantuan ke lebih banyak orang dengan anggaran Kartu Pra Kerja yang Rp 20 Triliun tersebut. Kalau kelas internasional saja, Lynda.com atau LinkedIn Learning bisa banderol 14.000 kursus dengan Rp 447.000, saya yakin di lokal bisa dihargai Rp 200.000. Toh, bahannya sudah jadi semua, dan semua pihak sudah terbayar. I guess.. Untuk target market 5,6 juta orang Indonesia, saya rasa return of investment (ROI) untuk masing-masing program sudah dapat. Matematika Rp 200.000 dikali 5,6 juta sama dengan Rp. 1,12 T. Kalau dipukul rata nan kasar, katanya ada 1.000 kursus, anggaran membuat modul per topik adalah Rp 1,12 M. Bisa buat bikin satu pesantren loh. Terakhir, masih ada sisa Rp 350.000 per kepala yang bisa dihemat pemerintah untuk dijadikan BLT lagi.

Ada pembelaan bahwa skills itu diperlukan untuk survive pasca Covid-19, agar setiap orang punya pekerjaan. Aku setuju. Makanya, perlu kursus dan BLT. Kenapa? Terus ntar kalau orang sudah punya skill dan jualan, yang mau beli siapa, kalau nggak ada uangnya? BLT bisa dipakai untuk modal awal memutar roda ekonomi itu kan? Disimpulkan oleh para ahli bahwa Indonesia bisa survive dengan meningkatkan belanja rumah tangga. Terus belanjanya mau pakai apa kalau perusahaan PHK dan uang tunai nggak ada? Mau ngutang pun, kan suatu hari juga harus tetap dibayar.

Oh, apakah Rp 20 T itu cukup? Ya nggak lah, Tante…

Indonesia perlu stand by loan dari negara strategis nan baik hati. Gimana itu? Besok-besok deh nulisnya. Semoga Presiden Jokowi tetap diberi kekuatan menghadapi cobaan yang bertubi-tubi ini, Ya Allah.. amin...

Padahal aku cuma mau ngomongin masker doang loh, tapi kenapa sampai breakdown anggarannya Kartu Pra Kerja sih? Yah lumayan, sudah 20 menit pakai masker collagen, biar wajah ga berkerut setiap mikirin Kartu Pra Kerja yang disulap jadi begini oleh oknum-oknum yang memancing di air keruh.




#ramadhan #ramadan #ramadankareem #masker #mediheal #collagen #review #honest #jujur #kartuprakerja #prakerja #justsaying #30hariberceritachallenge #survive #pandemi #pandemic #covid19 #corona #economics #ekonomi #masterclass #linkedin #nobel #BLT

28 views
Boleh aku kirim update?
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey Snapchat Icon
You know what is right, do right.

© 2023 by Arianna Castillo​. Proudly created with Wix.com