Search

Bisakah Kita Bersatu?

“Tak ada lagi 01 dan 02, yang ada hanyalah Persatuan Indonesia,” ujar Presiden Joko Widodo dalam pidato kemenangannya dari Lanud Halim Perdanakusuma. Sebuah ajakan yang heroik namun tidak mudah implementasinya. Dimanakah tantangannya?


Gelombang kemajuan teknologi membuat hampir segalanya memungkinkan. Bahkan, keinginan kita untuk sesuka hati mendapatkan informasi yang kita mau, membuat kita sendiri terjebak dalam luapan informasi yang dapat membuat pikiran bias. Terima kasih kepada algoritma web yang mengolah cookies kita, kita jadi dihadapkan pada informasi-informasi baru yang berhubungan dengan data yang sebelumnya kita cari di web atau sosial media tersebut.


Tanpa kita sadari, kita hidup dalam lingkungan yang mengajarkan kebencian secara tidak langsung. Kita belajar membenci di lingkungan yang memberikan kita cinta kasih. Manusia dilahirkan dengan cinta, namun kadang manusia dibesarkan dengan rasa benci. Setiap keluarga berbeda dan punya keunikannya sendiri. Sehingga, ada saja orang-orang yang tidak mengerti apa itu belas kasih, bukan karena dia tidak punya perasaan, tetapi dia tidak pernah dibesarkan untuk mengasihi. Sebuah contoh tragis yang terjadi di Alabama, Amerika Serikat, ketika seorang anak berkulit putih bernama Henry Hays membunuh seorang berkulit hitam dengan sadis, lalu mendapatkan hukuman mati. Anthony Ray Hinton, kawannya di penjara berkata, dari masanya bersama Henry, bahwa rupanya sejak kecil, tanpa disadari, lingkungan sekitar Henry mengajarkannya untuk membenci orang kulit hitam. Sehingga ketika ia besar, dia merasa sudah seharusnya menemukan seseorang berkulit hitam untuk disiksa dan dibunuh. Bayangkan kalau itu yang terjadi pada bangsa kita.


Dalam Islam, seseorang dinyatakan aqil baligh atau sudah dewasa jika sudah mimpi basah, haid, atau lewat umur 15 tahun. Di titik tersebutlah si anak bisa dibilang sudah cukup mampu untuk membedakan mana yang baik dan buruk, dan diminta pertanggungjawaban atas perilakunya. Umur seorang anak mencapai aqil baligh-nya adalah di sekitar 9-15 tahun. Jika otak anak kecil di bawah 9 tahun belum mampu membedakan mana yang baik dan buruk, maka pantaskan sebuah keluarga membicarakan preferensi politik mereka di depan anak-anaknya yang masih kecil saat sedang sarapan? Percakapan tersebut secara tidak langsung akan mengajarkan anak-anak tentang kesukaan dan kebencian terhadap tokoh politik tertentu. Belum lagi, tokoh politik di Indonesia sekarang umurnya panjang-panjang. Pasti setiap kita pernah bertemu dengan seseorang yang mengidolakan seorang figur publik sejak kecil karena orang tuanya pun suka dengan figur publik itu. Jika kamu tanyakan siapakah figur publik senior yang tidak disukainya, saya rasa sebagian besar jawabannya akan sama dengan figur publik yang tidak disukai keluarganya. Kebetulan? Tidak sengaja. Ironisnya, alasan ketidak sukaan tersebut kadang hanya karena tidak suka. Ditambah lagi, DNA pun dapat mewariskan rasa benci juga. Jadi, jika leluhur Anda tidak menyukai suku tertentu, ada kemungkinan, tanpa Anda sadari, Andapun bisa membenci suku itu tanpa alasan yang bisa Anda jelaskan.


Kalau pemikiran kita bisa dibuka, hati dapat mengikuti.

“Oh tidak, Lathifa. Saya pilih Prabowo, tapi anak saya pilih Jokowi tuh.”


Kembali ke bagian perkembangan globalisasi. Kecanggihan teknologi dan kecepatan media bekerja membuat setiap generasi memiliki sumber berita berbeda yang dapat membentuk preferensi pilihan mereka. Kalau pemikiran kita bisa dibuka, hati dapat mengikuti. Derasnya pasokan informasi dapat memotong lingkaran setan kebencian. Tapi bagaimana kalau informasinya hoax? Ya.. yang diputus adalah lingkaran suci kepercayaan. Yang semuanya dilakukan sendiri oleh jari jemari kita secara sadar dan tidak sadar karena keterbatasan pengetahuan.


Dalam sebuah kesempatan dalam My Guest Needs No Introduction with David Letterman, Presiden Amerika Serikat ke-44 Barack Obama mengatakan bahwa saat ini manusia cenderung hidup dalam gelembung. Sebuah riset kecil yang pernah ditunjukkan kepadanya menyatakan jika tiga orang berbeda mencari satu kata yang sama di Google, maka hasil yang keluar bisa berbeda juga. Tiga orang dengan haluan politik yang berbeda dikumpulkan untuk melakukan tes ini. Masing-masing punya kecenderungan liberal, moderat, dan sayap kanan. Mereka diminta untuk mengetik kata “Mesir” di Google gadget mereka. Hasilnya, yang liberal mendapatkan informasi tentang Bundaran Tahrir (pusat Revolusi Arab Spring), yang moderat diberikan info tentang Sungai Nil untuk berwisata, sementara yang radikal mendapatkan pranala berkaitan Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood). Mengejutkan bukan?


Atas: Bundaran Tahris. Tengah: Sungai Nil Kairo. Bawah: Demonstrasi Ikhwanul Muslimin


Meskipun seseorang di kampung dapat menjangkau informasi nasional, tetapi kecenderungan pergaulan on line-nya akan mempertemukannya dengan orang yang berpola pikir sama, sekaligus memperkecil jendela baginya untuk menelaah pendapat baru tentang apa yang disukainya. Semisal Anda suka belanja kosmetik, maka Anda akan cenderung mendapatkan iklan kosmetik terus menerus. Begitu pula jika Anda suka beli sepatu, maka iklan sepatu terbaru membanjiri laman Instagram Anda. Jadi jangan heran bila Anda pendukung Anies Baswedan dan selalu mengikuti berita tentangnya on line, lalu Anda pun terkonversi menjadi pendukung Prabowo, karena sebagian besar percakapan on line yang memojokkan Basuki Tjahaja Purnama juga mendiskreditkan kinerja Joko Widodo. Ini seperti romantisme “Kejar daku, kau kutangkap!” Anda mengejar informasi, lalu informasi itu menangkap Anda. Lalu Anda dibawa lari kemanapun informasi membawa Anda tanpa Anda bisa berhenti sejenak mengapa Anda perlu menelan semua informasi itu. Hasilnya Anda terheran-heran mengapa orang begitu memuja Basuki Tjahaja Purnama, sementara yang kerap Anda baca adalah kesalahannya. Vice versa lho! Jika Anda pendukung Basuki Tjahaja Purnama dalam Pilkada DKI 2017, ada kemungkinan besar yang berseliweran di laman media sosial Anda adalah ejekan tentang kinerja Gubernur DKI saat ini. Aneh tapi nyata, dan semuanya bisa dijelaskan dengan algoritma komputer, sebuah ilmu pasti yang dibuat oleh manusia untuk manusia.


Jadi, dapatkah kita bersatu jika kita sama-sama terpenjara dalam lingkaran “Kejar daku, kau kutangkap” ini? Sulit rasanya karena, di 2019 ini, lingkaran pergaulan mayoritas kita hanya tinggal dua: dunia nyata dan dunia maya. Jika di dunia nyata, kita disuapi oleh rasa benci kepada figur politik lawan dan di dunia maya kita dihidangkan berita yang mendiskreditkan orang-orang yang sama, kapankah kita akan muntah dan akhirnya mengatakan, “Cukup sudah”? Saya sedang berusaha menemukan rumus matematikanya.


Ketika berdebat dengan Juru Bicara BPN, dr. Gamal Albinsaid, di iNews.

Berswafoto bersama setelahnya. No hard feeling.

Inilah yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk menerapkan sila ke tiga Pancasila di jaman now. Survey Litbang Kompas pasca Pemilu 2019 mengungkapkan kalau 92,5 persen rakyat Indonesia mau menerima hasil resmi KPU. Lalu, kenapa persatuannya tetap susah? Karena retaknya hubungan pendukung Prabowo dan Jokowi bukanlah dimulai di musim pemilu ini saja, tetapi sudah sejak lima tahun lalu, semenjak Jokowi dan Prabowo ditetapkan sebagai calon presiden Indonesia di pertengahan 2014. Sebuah kerenggangan yang dimulai selama itu, lalu dibuka lagi lukanya selama berbulan-bulan kampanye, tentu tidak mudah mengobati lukanya. Apalagi di tataran ibu-ibu yang harus dikeluarkan dari grup pengajiannya hanya karena pilihan presidennya, atau bagi anak yang orang tuanya harus dipindahtugaskan karena membela apa yang diyakininya.


Terakhir, sesemangatnya kita berekonsiliasi, jangan lupa kalau luka di badan yang dikasih obat merah saja perih dan butuh waktu untuk mulus lagi kulitnya. Apalagi mengobati luka bangsa ini yang sudah menganga karena pembiaran masing-masing kita yang acuh. Kita acuh karena kita tidak tahu, takut, juga berbangga hati menjadi korban yang terluka dan terus menghidupkan nostalgia bagaimana luka itu didapat tanpa belajar melangkah untuk menyembuhkan luka lama ini. Memajukan Indonesia berarti menjaga masa depan Indonesia yang akan dihuni generasi setelah kita. Apapun yang sudah kita suapi ke generasi muda kita, baik sadar maupun tidak, sudah terekam di otak mereka yang belum tentu bisa membedakan mana yang baik dan buruk. Sehingga menjadi tugas kita pula untuk menjadi teladan yang berani memperbaiki kesalahan dan melakukan yang benar.


#indonesia #jokowi #jokowidodo #prabowo #marufamin #sandiaga #sandiagauno #persatuan #pancasila #teladan #tanggungjawab #davidletterman #barackobama #kampanye #politik #pelukan #muda #millennial

138 views
Boleh aku kirim update?
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey Snapchat Icon
You know what is right, do right.

© 2023 by Arianna Castillo​. Proudly created with Wix.com