Search

2020: Tahun Siap-Siap


Sebagai anak muda, banyak hal yang harus kita rencanakan untuk menikmati masa tua. Sayangnya, tidak semua pekerjaan menjanjikan itu. Kenapa? Karena, (1) gaji pensiunan belum tentu cukup menghidupi hidup yang sudah terlanjur berbiaya, dan (2) arti nikmat setiap orang berbeda-beda. Anak muda jaman sekarang terkategori ke grup milenial dan generasi Z. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa mereka yang lahir di tahun 1981-2002 memiliki cara berpikir dan pola hidup yang berbeda dari generasi sebelumnya. Namun, tak banyak yang tahu jika antara generasi milenial dan generasi Z terdapat perbedaan pola pikir yang signifikan juga. Faktor dasarnya antara lain adalah status pernikahan, jumlah tanggungan, dan kedekatan terhadap dawai.


Tahun 2020 akan menjadi tahunnya Indonesia siap-siap. Antara siap-siap maju atau siap-siap tertinggal lagi, itu semua bergantung dari pemangku kebijakan. Jarang adanya Indonesia maju satu langkah di depan dibanding negara lainnya dalam hal kemajuan perkembangan. Namun, secara personal, orang Indonesia sering lebih maju dari pada warga negara lainnya. Banyak anak bangsa yang karya dan pemikirannya lebih maju dari masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Kerap kita mendengar mendengar seseorang mengatakan kalau si ini dan si itu terlalu maju untuk jaman sekarang. Indonesia belum siap dengan orang seperti itu, gagasan ini, atau pun terobosan itu. Pertanyaannya, kapan? Ini bukan dekade pertama Indonesia tidak siap. Ketika para penerima beasiswa di jaman Bung Karno dikirim menuntut ilmu di luar negeri demi membangun Indonesia lebih baik, tidak sedikit yang pulang tanpa mendapatkan dukungan untuk menerapkan ilmu demi kemajuan Indonesia. Hal yang serupa masih terjadi di dekade yang baru saja lewat. Lulusan beasiswa luar negeri pemerintah tidak serta merta mudah mendapatkan pekerjaan. Sehingga nampak ketidaksiapan bangsa dalam menerima generasi yang baru selesai dididik dengan uang negara. Dalam hemat penulis, ada dua penyebab mengapa Indonesia masih belum siap menghadapi tantangan perubahan jaman.


Pertama, negara kita belum siap dengan perubahan dan perbedaan pola pikir generasi milenial, apalagi generasi Z. Sehingga banyak anak muda yang keluar masuk dari tempat kerja. Lucunya, yang perlu karyawan dan yang mencari kerja sama-sama tidak mengerti kalau ada faktor semacam ini berlaku di bawah alam sadar mereka. Tren ke depan bukanlah lagi kompetisi, melainkan kolaborasi. Menurut ‘Harvard Business Review’, banyak sekali perusahaan (baik yang besar atau pun kecil) gagal menerapkan kolaborasi di lingkungan kerjanya. Efek dari perubahan pola pemerintahan secara global, dari yang model kompeni, diktator, ke masa demokrasi saat ini, menghasilkan rakyat yang lebih berani menyuarakan pikiran dibanding masa lampau.


Generasi yang menyaksikan opresi rezim Orde Baru, secara tidak sadar, masih banyak yang memiliki karakter untuk diam daripada hidup susah. Sementara generasi setelahnya sadar betul mereka harus bersuara agar terbebas dari tekanan pemerintahan yang tidak adil. Ini adalah generasi yang sama dengan aktivis 1998. Bagaimana dengan generasi yang lahir pasca Reformasi? Mereka tumbuh besar tanpa tekanan politik berlebih. Sebuah impian dan cita-cita para pendahulu kita yang berjuang di politik pemerintahan. Alas, efek sampingnya adalah terlahir sebuah generasi yang antipati terhadap politik karena bersenang-senang menjadi prioritas anak muda “jaman now” dibanding meraih kebebasan politik dan finansial. Hal ini tercermin dari angka temuan bahwa generasi milenial percaya diri untuk mengeluarkan uangnya dua atau tiga kali lipat dari penghasilan, dengan menggunakan kredit, agar dapat memenuhi kebutuhan hidup seperti jalan-jalan dan pencitraan.


Kemajuan teknologi dan kehadiran aplikasi-aplikasi kekinian menunjukkan sifat dasar kita. Toh, semua aplikasi adanya dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi. Di negara kita yang masyarakatnya terbukti tidak suka jalan kaki, tentu layanan aplikasi antar barang instan menjadi laku keras. Di masa lalu, orang tua akan mengeluarkan uang banyak demi foto studio anaknya yang baru lulus sekolah untuk dipajang di ruang tamu. Kini, baru mau sidang saja, semua tetangga bisa tahu lewat aplikasi media sosial daring.


Akibatnya, banyak layanan dan program pemerintah untuk anak muda yang kurang efektif. Sebab, program pemerintah diciptakan tanpa kolaborasi dengan target pasar mereka atau dasar data yang tepat. Sebuah program yang semestinya bisa menyelesaikan banyak masalah dengan satu anggaran APBN, malah jadi pemborosan pajak masyarakat. Syukurnya, dengan sekian banyak tantangan, Presiden Jokowi masih mampu menurunkan angka kemiskinan hingga 9,22%. Terendah dalam sejarah 20 tahun terakhir Indonesia.


Kedua, anak muda yang setengah siap. Banyak sekali lulusan perguruan tinggi dengan jurusan yang disenangi, tetapi bukan dari jurusan yang dibutuhkan pasar saat dia lulus delapan semester kemudian. Sebagai contoh, sementara lulusan ekonomi syariah semakin banyak, industri ekonomi syariah belum bisa menyerap banyak tenaga kerja karena perkembangan industrinya tidak secepat ekspektasi. Di sisi lain, tingkat kebutuhan perusahaan untuk admin media sosial meningkat, padahal tidak ada jurusan pendidikan media sosial ataupun pelatihan yang komprehensif mengenai penggunaan media sosial untuk komersil.


Don’t beat the machine in their own game, but master yourself to own the game.

Kegalauan generasi muda semakin meningkat ketika dihimbau untuk menjadi pengusaha. Sementara banyak perusahaan mengharuskan adanya pengalaman kerja minimal dua tahun, meminta kredit ke bank pun mengharuskan si pemohon memiliki harta jaminan dan perusahaan yang berumur minimal dua tahun juga. Jika si pemohon berasal dari keluarga tidak mampu, maka bagaimana cara mendapatkan jaminan? Di lain pihak, belum ada perusahaan yang mau menerimanya sebagai karyawan karena belum memiliki pengalaman kerja. Munculnya perusahaan-perusahaan start up pemberi kredit tanpa agunan cepat menjadi solusi alternatif untuk menyelesaikan masalah ini. Begitu pula program pemerintah seperti Kredit UMi, Bank Wakaf Mikro, dan sebagainya. Namun, ini masih belum menjawab kebutuhkan anak muda untuk bisa menjadi pengusaha yang bisa menciptakan lapangan kerja juga. Mendapatkan mentor yang tepat, atau mengikuti program inkubasi usaha, menjadi sesuatu yang dicari-cari oleh anak muda saat ini, karena banyak sekali yang tidak tahu harus mulai di mana.


Tahun ini, kita akan melihat semakin banyak program pemerintah yang ditujukan untuk menjawab masalah ketenagakerjaan anak muda. Beberapa di antaranya adalah Kartu Pra-Kerja, Digital Talent Scholarship, dan yang terpenting, omnibus law yang mengakomodir kebutuhan dunia kerja masa kini, yang bersahabat pada generasi Z dan milenial, juga setara pada gender perempuan, dan berpihak pada difabel.


Terakhir, sebagai anak bangsa, kita harus belajar bekerja sama, berkolaborasi, dan berinteraksi dengan orang lain secara lebih baik. Menurut pendiri Alibaba Jack Ma, dunia kerja saat ini tidak hanya membutuhkan kadar Intelligence Quotient (IQ) dan Emotional Quotient (EQ) yang cukup, namun juga memerlukan Love Quotient(LQ). Sepintar apapun seseorang, tetapi tidak bisa bekerja sama dengan orang lain, maka impian hanya tinggal mimpi. Pada era di mana semuanya hampir bisa dilakukan bersama mesin, banyak angkatan kerja diajarkan untuk mengalahkan mesin dalam “permainan mesin” itu sendiri, untuk menjadi lebih baik daripada mesin. Padahal, semestinya kita mengajarkan diri sendiri memiliki LQ, sebuah perasaan untuk keadilan, kreatif dalam menghadapi tantangan, empati yang mendalam, dan kebijaksanaan dalam merespon. Hal-hal yang tidak akan dimiliki oleh mesin sekelas teknologi Artificial Intelligence sekalipun. Don’t beat the machine in their own game, but master yourself to own the game. Dengan bekerja bersama, Indonesia bisa maju dan benar-benar siap menjadi negara maju berkat generasi muda penerus bangsa.


Foto candid lagi, literally, geser sofa di ruang tamu Menteri. LOL.

47 views
Boleh aku kirim update?
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon
  • Grey Snapchat Icon
You know what is right, do right.

© 2023 by Arianna Castillo​. Proudly created with Wix.com